KABARLAH.COM – Oase, menapaki jalan tauhid dan cinta ilahi, dijelaskan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Futūḥ al-Ghayb:
“Jika kau ingin Allah memandangmu, bersihkanlah hatimu dari selain Dia.”
Awal Jalan: Tauhid dan Keikhlasan
Setiap insan yang ingin menempuh jalan menuju Allah harus memulai dengan tauhid yang sejati, bukan sekadar di lisan tapi mengakar dalam hati. Tauhid bukan hanya pernyataan “Lā ilāha illā Allāh”, tetapi pemutusan segala ikatan kepada makhluk dan pengokohan hanya kepada Allah.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An’ām: 162)
Syekh Abdul Qadir berkata:
“Hati seorang muwahhid tidak akan diam kecuali ketika bersama Allah. Ia tidak tenang kecuali saat seluruh dunia lepas dari hatinya.”
Inilah ruh dari keikhlasan. Amal saleh tanpa keikhlasan adalah debu yang berterbangan. Hasan al-Banna mengingatkan:
“Amal yang tidak didasarkan pada niat yang tulus dan keikhlasan akan hancur sebagaimana bangunan yang dibangun di atas pasir.”
Mujahadah: Melawan Nafsu dan Dunia
Jalan suluk adalah perjuangan seumur hidup melawan hawa nafsu dan rayuan dunia. Dunia bukan musuh jika digunakan sebagai kendaraan menuju Allah, namun akan menjerumuskan jika menjadi tujuan.
Sabda Nabi ﷺ:
“Musuh terbesarmu adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.”
(HR. al-Baihaqi dalam Syu’ab al-İmān)
Syekh Abdul Qadir mengingatkan,
“Engkau tidak akan sampai kepada Allah hingga engkau mampu memenggal kepala nafsumu dengan pedang mujahadah.”
Sayyid Qutb dalam Fi Ẓilāl al-Qur’ān berkata:
“Jalan dakwah ini penuh kerikil tajam, hanya orang-orang yang menyerahkan hidupnya kepada Allah dengan sepenuh jiwa yang akan sanggup menapakinya.”
Tawakkal dan Ridha: Menyerahkan Urusan kepada Allah
Salah satu puncak perjalanan ruhani adalah tawakkal dan ridha. Tawakkal bukan pasif, tapi aktif dalam usaha dan total dalam penyerahan kepada Allah. Orang yang bertawakkal tidak memaksa takdir, tapi merangkulnya dengan lapang dada.
“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”
(QS. At-Thalāq: 3)
Syekh menasihati,
“Serahkan urusanmu kepada-Nya. Diamlah dalam kehendak-Nya. Jangan mengatur Allah, biarlah Allah yang mengaturmu.”
Sywkh .Sayyid Qutb mengungkapkan:
“Tawakkal adalah kekuatan ruhani. Ia menanamkan keteguhan dan ketenangan dalam perjuangan.”
IZuhud dan Wara’: Memiliki Dunia tapi Tidak Dimiliki
Zuhud bukan berarti miskin dan anti dunia, melainkan menjadikan dunia di tangan, bukan di hati. Wara’ adalah kehati-hatian terhadap syubhat dan hal yang mendekati haram.
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita.”
(HR. Muslim)
Syekh berkata,
“Jangan tertipu oleh dunia walau engkau menguasainya. Tetaplah sebagai hamba, bukan penguasa atas dunia.”
Imam as – Syahid Hasan al-Banna mengingatkan:
“Kita menginginkan dunia bukan untuk menikmatinya, tetapi sebagai ladang amal. Jika ia menjadi tujuan, kita akan hancur seperti umat sebelum kita.”
Sabar dan Syukur: Menyambut Ujian dengan Cinta
Sabar adalah teman setia pejuang. Ia adalah pakaian harian ahli suluk dan para da’i. Syukur adalah penguat ruh dalam kenikmatan dan musibah. Keduanya adalah dua sayap untuk terbang menuju Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Dan sabda Nabi ﷺ:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Segala urusannya baik. Jika mendapat nikmat, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika tertimpa musibah, dia bersabar, dan itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)
Syekh berkata:
“Sabar itu ibarat akar pohon iman. Ia pahit di awal, tapi menghasilkan buah manis di akhir.”
Syekh Sayyid Qutb menulis:
“Musibah dalam jalan dakwah bukanlah kegagalan, melainkan cara Allah menyaring orang-orang yang jujur dari yang dusta.”
Dzikir dan Ma’rifat: Hidup dalam Kehadiran Allah
Dzikir bukan sekadar lisan, tetapi gerakan hati menuju hadirat Allah. Ia adalah makanan ruh dan jembatan menuju ma’rifatullah. Orang yang selalu berdzikir akan hidup dalam kedekatan dan penyaksian.
“Ingatlah Aku, maka Aku akan ingat kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Sabda Nabi ﷺ:
“Permisalan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, bagaikan orang hidup dan orang mati.”
(HR. Bukhari)
Syekh berkata:
“Dzikir adalah cahaya bagi hati. Barang siapa hidup dengan dzikir, ia tidak akan pernah kesepian, walau ditinggal semua makhluk.”
Imam as- Syahid Hasan al-Banna menyebut:
“Hati yang hidup adalah hati yang terhubung kepada Allah setiap waktu. Jika terputus, ia mati walau tubuhnya masih hidup.”
Penutup: Dakwah, Suluk, dan Keteladanan Sufi Pejuang
Renungan-renungan Syekh Abdul Qadir al-Jailani bukan hanya untuk para ahli ibadah, tapi juga para pejuang dakwah. Beliau adalah contoh sufi yang aktif, murabbi ruhani yang membumikan makrifat, bukan meminggirkannya dari dunia nyata.
Suluk bukanlah pelarian dari realitas, tetapi kekuatan ruhani untuk berdiri tegar dalam perjuangan. Dalam setiap langkah dakwah, kita membutuhkan hati yang pp000ikhlas, ruh yang jernih, dan pandangan yang menembus langit.
Sebagaimana pesan as- Syahid Hasan al-Banna:
“Bangunlah ruh kalian dengan dzikir, bangunlah akal kalian dengan ilmu, dan bangunlah masyarakat kalian dengan amal. Inilah jalan dakwah sejati.”
Allahu ‘ Alam.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM