BerandaBeritaNasionalSiak Pusat Budaya Melayu Bersendikan Syarak dan Kitabullah, Dalam Bingkai NKRI, Pancasila,...

Siak Pusat Budaya Melayu Bersendikan Syarak dan Kitabullah, Dalam Bingkai NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Siak memiliki warisan sejarah, adat, dan keislaman yang kuat untuk menjadi poros kebudayaan Melayu yang hidup, dinamis, dan memimpin arah peradaban. Namun, cita-cita itu tidak cukup ditegakkan dengan kebanggaan simbolik. Ia membutuhkan manajemen implementasi yang rapi: nilai yang jelas, kelembagaan yang kuat, program yang terukur, serta evaluasi yang berkelanjutan. Karena itu, tema “Siak Pusat Budaya Melayu Bersendikan Syarak, dan Kitabullah” harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang menyatukan akhlak, ilmu, ekonomi, dan tata kelola publik.

Prinsip dasarnya dapat dipadatkan dalam enam etos kerja peradaban: satu kata dalam ucapan (integritas), satu tindakan dalam perbuatan (konsistensi), matang dalam berpikir (hikmah), indah dalam berbuat (ihsan), bijak dalam berbagi (keadilan sosial), dan ikhlas dalam memberi (pengabdian lillāh). Enam prinsip ini bukan retorika; ini adalah fondasi kebijakan.

Al-Qur’an mengingatkan: “Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2–3). Ayat ini menuntut kepemimpinan yang tidak memisahkan pidato dan tindakan. Dalam hadits sahih, Rasulullah ﷺ menegaskan tanda kemunafikan: ketika berbicara berdusta, ketika berjanji mengingkari, dan ketika dipercaya berkhianat (HR. Bukhari-Muslim). Artinya, pembangunan budaya di Siak harus bergerak dari program seremonial menuju program berdampak—terukur indikatornya, jelas pelaksananya, dan dapat diperiksa hasilnya.

Pada saat yang sama, ukuran peradaban tidak hanya dinilai dari gedung, festival, atau infrastruktur, tetapi dari cara masyarakat memperlakukan kelompok rentan. Allah menegur keras orang yang mengabaikan yatim dan miskin (QS. Al-Ma’un: 1–3), dan menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari kebajikan sejati (QS. Al-Baqarah: 177). Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kedudukan orang yang menanggung anak yatim sangat dekat dengan beliau di surga (HR. Bukhari).

Karena itu, apabila Siak hendak tampil sebagai pusat budaya Melayu-Islam, maka kebijakan sosialnya harus berpihak: perlindungan anak yatim, penguatan keluarga miskin, layanan kesehatan dasar, serta pemberdayaan ekonomi mustahik secara bermartabat.

Selanjutnya, pilar paling menentukan masa depan adalah pendidikan gratis, berkualitas, dan berkarakter. Wahyu pertama dimulai dengan perintah membaca (QS. Al-‘Alaq: 1–5), dan Allah meninggikan derajat orang berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11). Menuntut ilmu juga ditegaskan sebagai kewajiban (HR. Ibnu Majah). Maka pembangunan Siak harus berorientasi jangka panjang: memperluas akses pendidikan tanpa diskriminasi, memperkuat literasi dasar dan digital, mengembangkan vokasi berbasis potensi lokal, serta membina adab dan kepemimpinan generasi muda. Pendidikan yang benar bukan hanya menghasilkan orang pandai, tetapi manusia amanah, santun, terampil, dan siap mengabdi pada masyarakat.

Di bidang ekonomi, pendekatan Melayu-Islam menuntut keseimbangan antara produktivitas dan keadilan. Islam memerintahkan amanah dalam jabatan (QS. An-Nisa’: 58), dan mengingatkan agar kekayaan tidak berputar pada kelompok terbatas saja (QS. Al-Hasyr: 7). Karena itu, strategi ekonomi Siak perlu memadukan penguatan UMKM, ekonomi kreatif budaya, pertanian-perikanan bernilai tambah, serta pembiayaan mikro yang inklusif. Instrumen sosial Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif dapat diintegrasikan dengan perencanaan daerah untuk mempercepat pengurangan kemiskinan dan memperluas kesempatan kerja, terutama bagi pemuda dan perempuan.

Agar seluruh agenda ini tidak terputus oleh pergantian kepemimpinan, dibutuhkan arsip dan laporan sebagai budaya ilmu dan akuntabilitas. Perintah pencatatan dalam QS. Al-Baqarah: 282 memberi pelajaran penting: dokumen adalah pelindung amanah. Maka setiap kegiatan harus memiliki standar dokumentasi, target, keluaran, dan capaian dampak. Pemerintah, lembaga adat, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan komunitas budaya perlu bekerja dalam satu sistem data bersama: siapa mengerjakan apa, kapan selesai, apa hasilnya, dan apa tindak lanjutnya. Tanpa arsip, kita kehilangan memori; tanpa laporan, kita kehilangan kepercayaan publik.

Dalam konteks kebangsaan, rumusan adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah bukanlah antitesis negara, melainkan kekuatan etis untuk memperkokoh Indonesia. Ia selaras dengan Pancasila: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan Sosial. Ia juga sejalan dengan Bhinneka Tunggal Ika: menghormati kemajemukan tanpa kehilangan prinsip. Dengan demikian, Siak dapat menjadi contoh bagaimana identitas lokal yang religius justru memperkuat integrasi nasional, mengurangi polarisasi, dan menumbuhkan harmoni sosial.

Untuk operasionalisasi, ada beberapa langkah strategis. Pertama, bentuk Majelis Kolaborasi Peradaban Siak yang mempertemukan pemerintah, DPRD, ulama, lembaga adat, kampus, pemuda, perempuan, dan pelaku usaha dalam forum rutin berbasis agenda. Kedua, tetapkan Indikator Kinerja Peradaban: bukan hanya angka ekonomi, tetapi juga indeks adab sosial, partisipasi warga, literasi, kepedulian yatim-miskin, dan kualitas layanan publik. Ketiga, luncurkan Gerakan 1000 Program Ihsan di tingkat kampung/kelurahan: kelas parenting, rumah baca, pelatihan keterampilan, klinik zakat-wakaf produktif, dan pendampingan UMKM. Keempat, bangun Pusat Data Budaya Melayu-Islam Siak sebagai basis kebijakan, riset, dan pendidikan publik. Kelima, wajibkan laporan tahunan peradaban yang dapat diakses masyarakat luas agar partisipasi dan pengawasan tumbuh sehat.

Akhirnya, cita-cital menjadikan Siak sebagai pusat budaya Melayu bukan semata urusan nostalgia sejarah. Ini adalah mandat masa depan: membentuk manusia yang beriman, berilmu, beradab, dan produktif. Bila nilai syarak dan Kitabullah diturunkan ke dalam tata kelola yang profesional, maka Siak tidak hanya menjaga warisan—Siak akan melahirkan model pembangunan berkelanjutan yang berakar, berkemajuan, dan membawa rahmat bagi semesta.

Semoga Allah menuntun setiap ikhtiar ini, menguatkan para pemimpin dan masyarakatnya, serta menjadikan Siak teladan peradaban Melayu-Islam yang memuliakan manusia, menegakkan keadilan, dan memperkokoh Indonesia. Aamiin.

Oleh: Prof.Dr.syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab, LC.,MM.,Ph.D. (Dt.Setya Amanah Dewa Negeri, Kesultanan Batara Saur Darussalam).

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img