BerandaBeritaNasionalSabar, Salat, dan Khusyuk: Jalan Pertolongan di Tengah Ujian

Sabar, Salat, dan Khusyuk: Jalan Pertolongan di Tengah Ujian

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang jika dibaca terpisah, terasa seperti “nasihat”; tetapi jika disambungkan, ia berubah menjadi “metode”. Tiga rangkaian ayat dalam Surah Al-Baqarah—(2:153), (2:45), dan (2:155–157)—membangun sebuah peta pertolongan yang rapi: (1) Allah menyuruh kita meminta pertolongan dengan alat tertentu, (2) Allah menjelaskan mengapa alat itu kadang terasa berat, lalu (3) Allah mengajari cara membaca ujian dan meresponsnya agar ujian tidak merobohkan iman, justru meninggikannya.

Pertama, pintu pertolongan dibuka dengan kalimat yang tegas: isti‘ānah (meminta pertolongan) itu bukan sekadar doa yang pasif, melainkan langkah spiritual yang aktif. “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS 2:153).

Secara akademik, ayat ini menegakkan prinsip: pertolongan Allah tidak hadir dalam ruang batin yang kacau. Maka Allah memberi dua perangkat penata diri: sabar dan shalat. Sabar menata respons; shalat menata orientasi. Sabar adalah kemampuan menahan diri dari reaksi instan, dari lisan yang meledak, dari keputusan yang dilahirkan oleh panik. Salat adalah titik tumpu: mengembalikan pusat hidup dari “masalah” kepada “Rabb”.

Secara filosofis, ayat ini mengandung pelajaran penting: manusia yang ditolong adalah manusia yang mau memimpin dirinya. Dalam krisis, ada dua pusat yang saling berebut: nafsu dan hidayah. Jika nafsu memimpin, kita menjadi reaktif: semua hal ditafsir sebagai ancaman, semua orang dianggap musuh, semua keadaan memancing putus asa. Jika hidayah memimpin, kita menjadi tertib: emosi diakui, tetapi tidak diberi takhta; masalah dibaca, tetapi tidak disembah; jalan dicari, tetapi tidak melupakan Allah.

Kedua, Al-Qur’an tidak romantis. Ia jujur menyebut realitas batin manusia: “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong; sesungguhnya itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS 2:45). Di sini Allah seperti menjawab keluhan diam-diam banyak orang: “Saya shalat, tapi kok masih berat? Saya tahu shalat itu penolong, tapi kok saya tidak merasa tertolong?” Ayat ini tidak menyalahkan shalat, tidak menurunkan standar syariat, melainkan menunjuk satu variabel yang menentukan daya guna: khusyuk.

Secara populis, khusyuk itu sederhana: hati hadir, bukan sekadar badan berdiri. Secara akademik, khusyuk adalah ketundukan batin yang memimpin anggota badan: tenang, fokus, sadar berada di hadapan Allah. Dan secara filosofis, khusyuk adalah puncak kesadaran spiritual: kita tahu siapa kita (hamba yang lemah) dan siapa Allah (Rabb Yang Mahakuat). Saat kesadaran itu hidup, salat tidak lagi menjadi rutinitas yang “ditunaikan”, tetapi menjadi ruang pemulihan. Shalat yang khusyuk mengembalikan kita ke tempat yang benar: di hadapan Allah, bukan di bawah tekanan dunia. Maka wajar jika salat terasa berat ketika hati justru “absen”: tubuh menghadap kiblat, tetapi pikiran menghadap kekhawatiran; lisan membaca, tetapi batin berdialog dengan ketakutan.

Ketiga, setelah pintu pertolongan ditunjukkan (2:153) dan kualitas batin dijelaskan (2:45), Allah menurunkan kita ke panggung kenyataan: ujian adalah keniscayaan. “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2:155). Perhatikan kata “sedikit”—bukan untuk meremehkan, tetapi untuk mengajari perspektif: sebesar apa pun ujian di mata manusia, ia tetap “sedikit” dibanding rahmat Allah yang luas dan dibanding negeri akhirat yang kekal.

Lalu Allah memberi kalimat respons yang merangkum tauhid dan keteguhan: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” (QS 2:156). Ini bukan sekadar kalimat duka. Ini deklarasi ontologis: “Aku milik Allah, maka hidupku tidak liar; dan aku kembali kepada Allah, maka lukaku tidak sia-sia.” Dengan kalimat ini, musibah tidak berubah menjadi kehancuran makna. Ia tetap sakit, tetapi tidak menjadi gelap. Ia tetap berat, tetapi tidak menjadikan kita kehilangan Tuhan.

Dan Allah menutup dengan tiga hadiah yang bernilai “langit”: “Mereka itulah yang mendapatkan salawat dari Rabb mereka, rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 2:157). Salawat di sini adalah pujian dan perhatian Allah—sebuah kehormatan ruhani. Rahmat adalah pelukan ilahi yang menenangkan dan menguatkan. Hidayah adalah kompas; tanpa hidayah, manusia mungkin kuat menahan, tetapi salah arah dalam melangkah.

Rasulullah ﷺ menegaskan hukum emas kehidupan mukmin: urusannya selalu baik—saat nikmat ia bersyukur, saat musibah ia bersabar (HR. Muslim). Maka peta praktisnya terang: tahan reaksi pertama (sabar), ambil wudu dan shalat (reset batin), hadirkan khusyuk dengan makna (hadir di hadapan Allah), ucapkan dan hayati Innā lillāh… (kembalikan urusan pada Pemiliknya), lalu ambil sebab yang halal (ikhtiar, musyawarah, berobat, bekerja, memperbaiki komunikasi). Inilah Al-Qur’an: spiritualitas yang tidak melarikan diri dari realitas, dan realitas yang tidak memadamkan cahaya spiritualitas.

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang sabar, yang menjadikan shalat sebagai penolong, dan yang khusyuk di hadapan-Mu—hingga ujian tidak mematahkan kami, tetapi mengangkat kami.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img