KABARLAH.COM, PEKANBARU – Kepedulian terhadap masa depan anak-anak kembali ditunjukkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Informatika Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Sebanyak delapan mahasiswa turun langsung ke Panti Asuhan Miftahul Jannah, Jalan Fajar, Labuh Baru, Kecamatan Payung Sekaki, pada Sabtu (27/12/2025), untuk menggelar kegiatan sosialisasi pencegahan radikalisme yang dikemas secara ramah anak.

Kegiatan Sosialisasi Bersama Anak-anak Panti Asuhan Miftahul Jannah
Kegiatan ini merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pancasila di bawah bimbingan dosen pengampu Riastri Helmy, M.Pd. Delapan mahasiswa tersebut terdiri dari Sri Wulandari, Zaskia Ramadhani, Jovita Larisa Arasmeta, Zerlina Afisa, Muhammad Adit Setiyawan Saputro, Tedi Zulhifan, Muhammad Risky Putra, Fajar AlFarabie.
Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan pendidikan nonformal, kelompok mahasiswa ini memilih panti asuhan sebagai lokasi kegiatan. Mereka menilai panti asuhan memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak, terutama bagi anak-anak yang memiliki latar belakang kehidupan yang tidak mudah.
Pendekatan Lembut, Anak Merasa Nyaman dan Bahagia
Sosialisasi ini mengusung tema “Aku Anak Baik, Aku Suka Damai” dan dilakukan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif berbasis ramah anak. Sejak awal kegiatan, mahasiswa sengaja membangun suasana yang hangat dan setara. Pemateri duduk melingkar bersama anak-anak, menggunakan bahasa sederhana, nada bicara lembut, serta ekspresi yang bersahabat.
Menariknya, istilah “radikalisme” tidak langsung disebutkan di awal kegiatan. Materi disampaikan secara bertahap melalui cerita, permainan, dan diskusi ringan agar anak tidak merasa takut atau tertekan.
Untuk mencairkan suasana, mahasiswa mengajak anak-anak mengikuti ice breaking emosional, seperti tepuk tangan untuk mengekspresikan rasa senang, pelukan pada diri sendiri saat sedih, dan latihan menarik napas untuk mengelola emosi marah. Cara sederhana ini terbukti efektif membuat anak-anak lebih fokus dan nyaman mengikuti kegiatan.
Cerita dan Permainan yang Membekas
Materi inti disampaikan melalui metode bercerita dengan judul “Tiga Teman di Taman Pelangi”. Cerita tersebut menggambarkan konflik sederhana antar anak, seperti memaksakan kehendak, merasa paling benar, dan tidak mau menghargai pendapat teman. Dari cerita inilah anak-anak diajak memahami mana sikap yang baik dan mana yang tidak, tanpa merasa digurui.
Kegiatan dilanjutkan dengan kuis interaktif dan tanya jawab sederhana. Anak-anak tampak antusias mengangkat tangan, menjawab pertanyaan, serta berani menyampaikan pendapat. Diskusi pun berlangsung hangat, di mana setiap jawaban dihargai dan tidak ada yang disalahkan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa menanamkan nilai-nilai dasar seperti menghargai perbedaan, tidak memaksakan kehendak, mau mendengar pendapat orang lain, serta menyelesaikan masalah dengan cara damai.
Anak Jalanan, Harapan Baru di Panti Asuhan
Dalam sesi wawancara dengan pengelola panti, terungkap bahwa anak-anak di Panti Asuhan Miftahul Jannah tidak hanya berasal dari anak usia sekolah dasar, tetapi juga terdapat anak berkebutuhan khusus. Sebagian dari mereka merupakan anak yang sebelumnya hidup di jalanan, yang diantarkan langsung oleh keluarga atau orang terdekat karena keterbatasan ekonomi, kondisi keluarga yang tidak harmonis, maupun faktor sosial lainnya.
Panti asuhan kemudian menjadi tempat bernaung sekaligus ruang pembinaan bagi anak-anak tersebut. Di sinilah mereka dibimbing untuk belajar tentang akhlak, moral, etika, dan adab, sekaligus dibekali pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Anak-anak tampil aktif, berani berbicara, dan mampu menyampaikan pendapat dengan baik. Bahkan saat diajak berbincang soal cita-cita, banyak dari mereka yang dengan percaya diri menyebut ingin menjadi tentara, polisi, dokter, dan guru.
Inisiatif Unggul Mahasiswa UMRI
Tidak hanya berhenti pada sosialisasi, kelompok mahasiswa ini juga menunjukkan inisiatif yang kuat. Mereka menyiapkan poster edukasi sebagai pegangan anak-anak, agar pesan yang disampaikan tidak berhenti di kegiatan satu hari saja. Poster tersebut memuat edukasi tentang radikalisme, moral, etika, adab, kesehatan, keluarga, hingga pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Pendekatan yang menyeluruh ini membuat kegiatan dinilai tidak sekadar formalitas tugas kuliah, melainkan kegiatan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anak-anak panti.
Sebanyak 10 poster edukatif dipasang di area panti asuhan, sementara setiap anak mendapatkan satu poster khusus sebagai bahan pengingat. Mahasiswa juga mengadakan permainan untuk melatih motorik, sesi berbagi cerita keseharian agar tercipta kedekatan emosional, serta memberikan bantuan berupa pakaian layak pakai, sembako, dan uang tunai. Anak-anak pun menerima bingkisan sebagai bentuk apresiasi dan kebahagiaan.
Harapan pada Perhatian Pemerintah
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap Panti Asuhan Miftahul Jannah. Dengan potensi anak-anak yang aktif, berani, dan memiliki minat serta bakat yang jelas, panti ini dinilai layak mendapatkan dukungan lebih lanjut, baik dari segi fasilitas, pembinaan, maupun program pengembangan bakat.
“Kami melihat langsung anak-anak di sini punya potensi besar. Mereka hanya butuh kesempatan dan perhatian agar bisa berkembang maksimal,” ungkap perwakilan kelompok mahasiswa.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa peran mahasiswa tidak hanya berada di ruang kelas, tetapi juga mampu hadir langsung di tengah masyarakat, membawa nilai Pancasila, kepedulian sosial, dan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia.



