Akses menuju Dusun Pematang Panjang yang sulit ditembus dan minim dukungan infrastruktur membuat setiap program pemberdayaan yang hadir di wilayah ini memiliki nilai strategis bagi warga. Dalam kegiatan Jejak (Jelajah Edukasi Untuk Kampung) yang berlangsung pada 28–30 November 2025, mahasiswa dari BEM Faperta dan Himateta kembali hadir, memperkuat berbagai upaya pemberdayaan yang sebelumnya telah dirintis oleh beberapa lembaga lain.
Program dibuka dengan kunjungan ke kelas jauh SDN 008 Kuntu Darussalam sekaligus peringatan Hari Guru bersama para siswa. Kehadiran mahasiswa membawa suasana belajar yang lebih segar. Melalui permainan edukatif, sesi berbagi pengalaman, serta aktivitas kelas yang dirancang interaktif, anak-anak didorong untuk lebih percaya diri dan berani mengungkapkan pendapat di depan teman-temannya. Bagi wilayah dengan akses pendidikan terbatas, momen ini menjadi penguatan penting bagi semangat belajar mereka.

Setelah itu, kegiatan berlanjut pada rangkaian pelatihan yang menjadi inti program Jejak tahun ini. Fokusnya adalah kemandirian pangan dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. BEM Faperta menghadirkan dua pelatihan utama terkait pengolahan pupuk organik. Pelatihan pertama dibawakan oleh Abidzul Safputra, yang mengajarkan warga cara memanfaatkan air cucian beras menjadi pupuk organik cair (POC).
Pelatihan kedua dipandu oleh Bagus Amrizal, yang memperkenalkan teknik pembuatan pupuk organik padat dari limbah batang pisang, bahan yang sangat mudah ditemukan di sekitar pemukiman warga. Kedua pelatihan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memberi warga kemampuan praktis untuk memproduksi pupuk sendiri.
Dari Himateta, Alfa Maulana Malik memberikan edukasi tentang pentingnya konsumsi sayur serta pelatihan pemanfaatan limbah plastik menjadi media tanam hidroponik. Inovasi ini membuka wawasan warga bahwa bahan-bahan sederhana di sekitar mereka dapat diubah menjadi sarana bercocok tanam yang efisien. Program kemudian ditutup dengan sesi pemaparan mengenai pangan yang baik, menekankan pentingnya pola makan sehat di tengah keterbatasan akses pangan berkualitas.
Berbagai pengetahuan baru ini menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat. Warga kini mampu memproduksi pupuk cair dan padat secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta memperluas praktik pertanian berkelanjutan. Pelatihan hidroponik berbasis limbah juga memberi alternatif metode bercocok tanam yang relevan bagi wilayah dengan keterbatasan lahan produktif.
Selain pelatihan teknis, mahasiswa dan warga melakukan kegiatan penanaman bibit pohon sebagai simbol komitmen bersama terhadap keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar dapat berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Ketua Pelaksana, Yuda Mahendra, menyatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya sarana berbagi ilmu, tetapi juga kesempatan bagi para mahasiswa untuk belajar dari masyarakat. “Kami datang bukan sekadar mengajar, tapi juga belajar dari kearifan lokal. Antusiasme dan partisipasi warga membuat seluruh kegiatan terasa sangat bermakna,” ujarnya.
Tokoh masyarakat, Fauzi Yati, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa meski akses menuju dusun sulit, semangat warga untuk belajar tetap tinggi. “Anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih hidup, dan kami juga memperoleh ilmu yang langsung bisa diaplikasikan di kebun kami,” ungkapnya.

Walau berlangsung hanya tiga hari, Jejak meninggalkan jejak perubahan yang nyata. Pengetahuan warga mengenai pangan, inovasi pupuk, dan pemanfaatan limbah kini menjadi modal penting untuk melangkah menuju kemandirian desa dalam jangka panjang.



