BerandaBeritaInternasionalTercatat Pendiri Aliansi Monarki Adat Dunia di Barcelona, Prof Syekh Sofyan Siroj...

Tercatat Pendiri Aliansi Monarki Adat Dunia di Barcelona, Prof Syekh Sofyan Siroj Apresiasi Kiprah Pangeran Mohammad Soleh Ridwan

spot_img

KABARLAH.COM – Datuk Setya Amanah Mangku Bumi Kesultanan Batara Saur Darussalam, Kampar, Riau, Pangeran Mohammad Soleh Ridwan, secara resmi tercatat sebagai salah satu pendiri Global Indigenous Monarchist Alliance (GIMA) International yang ditetapkan di Paris, Prancis pada 7 Juni 2026. Aliansi monarki adat sedunia tersebut sebelumnya dideklarasikan secara formal di Barcelona, Spanyol, pada tanggal 25 Mei 2026, guna memperkuat eksistensi dan hak-hak masyarakat adat di kancah internasional.

Capaian prestisius di tingkat global ini langsung memantik tahniah serta apresiasi yang tinggi dari tanah air. Prof. Dr. Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab, Ph.D., selaku Datuk Setya Amanah Dewa Negeri Kesultanan Batara Saur Darussalam, Riau, Indonesia, menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas kontribusi strategis tersebut dalam mengawal marwah monarki adat di level dunia.

“Kami menyampaikan tahniah dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Prof. Pangeran Mohammad Soleh Ridwan, Ph.D. selaku Datuk Setya Amanah Mangku Bumi dari Kesultanan Batara Saur Darussalam, Riau. Selaku tim pendiri monarki adat sedunia, peran beliau sangat krusial dalam memperkuat seluruh kesultanan, kerajaan, beserta garis keturunannya, sekaligus merealisasikan berbagai program kerja sama internasional,” ujar Syekh Sofyan Siroj saat memberikan keterangan resmi di Pekanbaru.

Lebih lanjut, Syekh Sofyan Siroj menjelaskan bahwa langkah diplomasi adat ini sangat selaras dengan nilai-nilai luhur yang termaktub di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, yang menekankan pentingnya saling mengenal dan bekerja sama antarbangsa. Menurutnya, piagam perjanjian internasional ini juga berkaitan erat dengan perlindungan hak paten turun-temurun bagi eksistensi kerajaan adat di era modern.

Berdasarkan dokumen resmi pendirian GIMA, aliansi ini lahir dari konsolidasi intensif para kepala berdaulat (Sovereign Heads) dan representasi monarki adat dari berbagai belahan dunia. Bersama jajaran direksi organisasi, di antaranya H.E. Dame Nina Saleh Ahmed (Duchess of Neuquén) dan Werken Reynaldo Mariqueo (Duke of Meli-Peuko), Prof. Pangeran Mohammad Soleh Ridwan—yang mewakili trah luhur nusantara Kerajaan Pajajaran—turut menandatangani piagam pendirian tersebut secara formal.

GIMA dibentuk sebagai respons kolektif terhadap dampak berkepanjangan dari era kolonisasi yang secara historis telah mengikis kedaulatan, merampas wilayah teritorial, serta mengacaukan institusi politik, budaya, dan spiritual bangsa-bangsa asli (indigenous nations).

Aliansi ini berkomitmen memperjuangkan hak otonomi dan determinasi diri yang diakui oleh hukum internasional, termasuk melalui kemitraan strategis dengan Komite Dekolonisasi PBB (C-24) serta kepatuhan terhadap Konvensi ILO 169 dan Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UNDRIP).

Karena itu, GIMA menetapkan lima misi utama. Pertama, memperjuangkan kedaulatan adat melalui pengakuan terhadap hak-hak inheren masyarakat adat, bangsa asli, dan kerajaan turun-temurun untuk menentukan nasib sendiri sesuai hukum adat masing-masing. Kedua, membangun aliansi global antarmonarki adat dan dewan adat lintas benua, meliputi Afrika, Nusantara, Amerika, Eropa, hingga Oseania.

Ketiga, mendorong terciptanya perdamaian berkelanjutan melalui prinsip solidaritas, kesetaraan, inklusivitas, dan kerja sama antarperadaban. Keempat, melestarikan warisan budaya dengan melindungi bahasa, adat istiadat, hukum adat, seni, serta kelembagaan kerajaan tradisional sebagai bagian dari khazanah peradaban manusia.

Sementara itu, misi kelima adalah memperjuangkan keadilan adat melalui pembentukan mekanisme penyelesaian sengketa secara damai berdasarkan hukum dan tradisi adat internasional, termasuk penguatan lembaga kehormatan yang disebut sebagai High Court of Justice.

Melalui wadah internasional ini, Kesultanan Batara Saur Darussalam bersama monarki adat global lainnya kini memiliki ruang diplomasi formal untuk saling bertukar pengetahuan, berbagi praktik terbaik (best practices), memperkuat kerja sama diplomatik, serta memastikan kelangsungan hidup dan kejayaan institusi adat bagi generasi-generasi yang akan datang.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img