KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada satu paradoks besar umat hari ini: Al-Qur’an semakin terdengar, tetapi kadang semakin tidak menentukan. Suaranya hidup di masjid, di gawai, di lomba-lomba, di bulan Ramadhan—namun daya pimpinannya belum selalu hidup di pusat keputusan: ketika memilih yang halal atau yang mudah, ketika menahan lisan atau membiarkannya liar, ketika menimbang amanah atau keuntungan. Inilah bentuk “gurbah” yang paling halus: bukan mushaf yang hilang, melainkan kepemimpinan wahyu yang melemah dalam ruang batin dan ruang publik.
Allah menegaskan fungsi Al-Qur’an dengan kalimat yang tidak menyisakan ruang tawar-menawar: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus…” (QS. Al-Isrā’ 17:9). Jika Al-Qur’an adalah jalan paling lurus, maka penyimpangan peradaban—bohong publik, zalim ekonomi, retak keluarga, kerasnya interaksi sosial—sering bukan karena kurang data, tetapi karena kurang hidayah. Kita bisa memiliki banyak informasi, tetapi tetap kehilangan arah, sebab informasi tidak otomatis menjadi nilai. Hidayah-lah yang menjadikan pengetahuan punya kompas.
Di sini Ramadhan tampil bukan sekadar “bulan ibadah”, tetapi bulan pemulihan orientasi. Secara akademik, Al-Qur’an sendiri mengajarkan model pembentukan manusia: tilawah → tazkiyah → ta‘lim. Allah berfirman tentang misi kenabian: “…membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah…” (QS. Al-Jumu‘ah 62:2). Urutannya bukan kebetulan. Tilawah adalah input wahyu ke pendengaran dan penglihatan. Tazkiyah adalah proses internal: pembersihan motif, pemurnian arah, pembentukan adab. Ta‘lim adalah keluaran ilmu yang bercahaya: ilmu yang menuntun amal, bukan sekadar menambah wacana. Bila tilawah tidak mengubah akhlak, sering yang putus bukan pada bacaan—melainkan pada tazkiyah. Kita membaca, tapi tidak membiarkan ayat “membersihkan”.
Di sinilah “tadabbur” menemukan makna filosofisnya. Tadabbur bukan sekadar merenung, melainkan menggeser posisi ayat: dari “objek bacaan” menjadi “subjek penilai”. Allah berfirman: “(Ini) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya…” (QS. Ṣād 38:29). Secara filosofis, seseorang baru benar-benar bertadabbur ketika ia rela dinilai oleh Al-Qur’an: ketika ayat bertanya, “Mengapa kamu melakukan ini?”; “Apa yang kamu kejar?”; “Di mana letak takutmu kepada Allah?”; lalu ia menjawab bukan dengan pembenaran, tetapi dengan pertobatan dan perubahan.
Namun tadabbur bukan proses yang dingin. Ia sangat spiritual karena Al-Qur’an adalah syifā’: penyembuh. Allah berfirman: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi apa yang ada dalam dada…” (QS. Yūnus 10:57). Banyak penyakit zaman ini tidak tampak sebagai “dosa besar”, tetapi menggerogoti batin: riya’ (haus validasi), hasad (iri), ketakutan miskin, marah yang meledak, putus asa yang disembunyikan, kecanduan syahwat digital, dan keras hati. Di level ini, Al-Qur’an bukan hanya informasi ilahi, tetapi formasi ilahi: membentuk ulang cara kita memandang Tuhan, diri, dan dunia.
Karena itu, Ramadhan yang Qur’ani bukan hanya memperbanyak bacaan, tetapi memulihkan “variabel batin” yang menentukan kesehatan sosial. Al-Qur’an menegaskan kaidah tazkiyah: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa), dan sungguh rugi yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams 91:9–10). Peradaban yang sehat lahir dari jiwa yang sehat: jiwa yang jujur, amanah, sabar, dan adil. Maka tadabbur yang benar akan terasa dalam indikator sederhana: lebih cepat reda saat marah, lebih malu saat hendak maksiat, lebih tenang saat sempit, dan lebih lembut saat berbeda pendapat.
Keterasingan Qur’an paling tragis bukan ketika tidak dibaca, tetapi ketika dibaca tanpa menjadi ukuran. Allah mengabadikan keluhan Rasulullah ﷺ: “Wahai Tuhanku, kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqān 25:30). “Mahjūr” bisa berarti meninggalkan tilawah, tetapi juga meninggalkan pemahaman, meninggalkan pengamalan, atau mengamalkan secara parsial—memilih ayat yang cocok dengan hawa nafsu, lalu menegosiasikan yang menuntut pengorbanan. Tadabbur hadir untuk memutus tradisi negosiasi itu: wahyu kembali menjadi hakim.
Arah Ramadhan juga dikunci oleh Sunnah. Nabi ﷺ menegaskan ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya klaim, tetapi pada interaksi Qur’ani yang berbuah: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Dan Al-Qur’an akan menjadi pembela bagi orang yang benar-benar hidup dengannya: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim). Syafaat itu bukan hadiah untuk suara semata, tetapi untuk hubungan yang nyata: dibaca, dipahami, dibela nilainya, dan diamalkan.
Di sinilah pendekatan “Al-Qur’an Tadabbur & ‘Amal” (Markaz Al-Minhāj) menjadi sangat relevan: disiplin kecil yang konsisten. Mushaf dibagi menjadi unit-unit tadabbur, agar pembaca selalu berakhir pada amal yang spesifik. Formatnya sederhana namun filosofis: 1 ayat → 1 aksi. Tilawah satu halaman, ambil satu nilai, tetapkan satu perbaikan hari ini. Karena kebangkitan besar tidak dimulai dari retorika besar, tetapi dari keputusan kecil yang istiqamah.
Maka ukuran Ramadhan yang menang bukan hanya “berapa juz”, tetapi: apakah Qur’an kembali menjadi imam dalam pusat keputusan? Saat marah, apakah ayat dan adab muncul sebelum makian? Saat tergoda, apakah takut kepada Allah muncul sebelum pembenaran? Saat berkuasa, apakah amanah muncul sebelum serakah? Saat berbeda pendapat, apakah rahmah dan kelembutan muncul sebelum ego—sebagaimana Allah mengingatkan adab Rasul: “Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka…” (QS. Āli ‘Imrān 3:159).
Ramadhan Syahrul Qur’an adalah momen pulang: dari tilawah menuju tazkiyah, lalu Qur’an kembali ke pusat keputusan. Jika itu terjadi, maka Qur’an tidak lagi “asing”; ia menjadi rumah batin, kompas akal, dan cahaya langkah—hingga kita berjalan lurus di dunia, dan pulang dengan selamat ke akhirat.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.




