BerandaInspirasiNasehatTADABBUR: QS AS-SHAFFAT (37): 4-5, Satu Tuhan, Satu Arah Hidup

TADABBUR: QS AS-SHAFFAT (37): 4-5, Satu Tuhan, Satu Arah Hidup

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ ۝٤
inna ilâhakum lawâḫid.

sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.

رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِۗ ۝٥
rabbus-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumâ wa rabbul-masyâriq.

Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari.

Ada kalanya manusia modern begitu kaya informasi, tetapi miskin orientasi. Kita tahu banyak hal, tetapi tidak tahu untuk apa kita hidup. Kita punya peta data, tapi kehilangan kompas makna. Di titik inilah dua ayat pendek dari Surah As-Shaffāt terasa seperti petir yang menyalakan arah: “Sesungguhnya Tuhan kalian benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi, dan apa yang di antara keduanya, serta Tuhan tempat-tempat terbit.”

Ayat ini pendek, namun daya ubahnya sangat panjang. Ia bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan rancangan peradaban batin. Ia bicara tentang siapa Tuhan, sekaligus mengoreksi siapa kita.

Secara zahir, ayat ini menegakkan fondasi tauhid secara kokoh: Allah Esa, tidak bersekutu, tidak terbagi. Keesaan ini bukan angka matematika, melainkan keesaan otoritas mutlak. Dalam bahasa sederhana: yang mencipta, yang memiliki, yang mengatur—hanya Dia yang berhak disembah, ditaati, dan dijadikan pusat nilai. Karena itu, penyebutan “Rabb langit dan bumi” bukan sekadar deskripsi kosmos, tetapi argumen rasional-imaniah. Jika alam yang sedemikian luas, presisi, dan berlapis tunduk dalam satu hukum, mengapa manusia justru hidup dengan banyak “tuhan kecil” di dalam dirinya?

Di sini Al-Qur’an bergerak sangat akademik: ia menyatukan wahyu dengan observasi. Ayat 4 menegaskan norma teologis, ayat 5 mengajak membaca realitas kosmik. Ini metodologi ilmu yang sehat: ada premis nilai, ada verifikasi tanda. Iman tidak dipertentangkan dengan akal; justru akal disucikan agar membaca alam sebagai ayat, bukan sekadar objek.

Kata “al-masyariq” (tempat-tempat terbit) dalam bentuk jamak membuka kedalaman filosofis yang indah. Terbit itu banyak, sumber cahayanya satu. Fenomena beragam, asal-usulnya tunggal. Sebab-sebab berlapis, Musabbib al-Asbāb tetap satu. Ini jawaban terhadap krisis modern yang sering terjebak dua ekstrem: pluralitas tanpa pusat, atau pusat tanpa keragaman. Qur’an menawarkan sintesis: keragaman gejala tidak membatalkan kesatuan makna.

Lalu bagaimana batinnya? Dalam manhaj Sunni, batin bukan tafsir liar yang menabrak zahir, tetapi pendalaman ruhani yang lahir dari zahir. Jika Allah satu, maka pusat jiwa juga harus satu. Takut, harap, cinta, tawakal—semuanya dikembalikan ke poros yang sama. Selama hati punya banyak poros, manusia akan letih. Hari ini takut miskin, besok takut opini orang, lusa takut kehilangan posisi. Hidup menjadi tegang karena “sesembahan” di dalam batin terlalu banyak.

Maka tauhid sejatinya adalah terapi eksistensial. Ia menyembuhkan kecemasan yang bersumber dari ketergantungan yang salah. Tauhid membebaskan manusia dari perbudakan halus: perbudakan citra, angka, status, pujian, bahkan trauma masa lalu. Ketika hati kembali ke Yang Satu, jiwa tidak lagi pecah. Inilah makna kebebasan yang paling dalam: bukan bebas melakukan apa saja, tetapi bebas dari selain Allah.

Dalam konteks ini, “Rabb al-masyāriq” bisa dibaca sebagai isyarat spiritual: Allah yang setiap hari menerbitkan matahari di cakrawala, juga mampu menerbitkan fajar-fajar baru dalam jiwa manusia. Ada fajar taubat setelah malam dosa. Ada fajar ilmu setelah gelap kebodohan. Ada fajar sabar setelah badai kehilangan. Ada fajar istiqamah setelah musim jatuh-bangun. Pesannya jelas: jangan absolutkan gelapmu, sebab Rabb-mu adalah Rabb segala terbit.

Bahasa populisnya begini:
kalau Allah mampu mengatur orbit semesta, Dia juga mampu mengatur jalan keluar hidupmu.
Kalau Allah menata matahari tanpa terlambat, Dia pun tidak pernah “terlambat” menolong hamba-Nya—hanya kita yang sering tergesa mengukur waktu Tuhan dengan jam ego kita.

Di tingkat sosial, tauhid mencegah kita dari penyakit peradaban: mengaku bertuhan satu tetapi hidup dengan standar ganda. Lisan berdzikir, tapi keputusan dikendalikan nafsu. Simbol agama ramai, tetapi amanah publik rapuh. Padahal konsekuensi tauhid adalah integritas: satu Tuhan, satu moralitas, satu kejujuran—di rumah, di pasar, di kantor, di mimbar, di ruang digital.

Karena itu, tadabbur ayat ini tidak boleh berhenti di kepala. Ia harus turun menjadi amal. Minimal ada empat latihan praktis. Pertama, tajdid tauhid harian: perbarui syahadat bukan hanya di bibir, tapi di niat kerja, cara berbicara, dan cara memandang manusia. Kedua, tadabbur kosmik singkat: luangkan beberapa menit menatap langit, fajar, atau senja; latih akal melihat keteraturan sebagai jejak rububiyah. Ketiga, audit sekutu hati: tulis apa yang paling Anda takutkan dan kejar; lalu tanya, apakah ini menggeser posisi Allah di pusat batin? Keempat, adab keputusan: sebelum memilih langkah besar, uji dengan satu pertanyaan—apakah ini mendekatkan pada ridha Allah atau sekadar menguatkan gengsi diri?

Dari sisi filosofis, ayat ini juga menata ulang relasi manusia dengan realitas. Manusia bukan pusat alam, melainkan hamba yang dititipi akal untuk membaca tanda. Ilmu tanpa tauhid mudah menjadi arogan. Spiritualitas tanpa disiplin akal mudah menjadi kabur. Aktivisme tanpa adab mudah menjadi keras. QS As-Shaffāt 4–5 mempertemukan ketiganya: ketegasan aqidah, kecermatan berpikir, dan kelembutan ubudiyah.

Akhirnya, tadabbur adalah seni mengembalikan hidup pada poros. Bukan sekadar memahami teks, tetapi membiarkan teks membentuk diri. Bukan hanya “mengerti bahwa Allah satu,” tetapi berani hidup dengan konsekuensi keesaan itu. Saat itulah ayat berubah dari bacaan menjadi jalan.

Maka pesan besarnya sederhana namun menentukan:
Tuhan itu satu—jangan jalani hidup dengan hati yang terbelah. Ketika poros sudah satu, langkah akan lebih tenang. Ketika kiblat sudah satu, keputusan lebih jernih. Ketika tujuan sudah satu, luka pun bisa dimaknai, dan perjuangan pun menemukan cahaya.
Itulah tadabbur: membaca langit untuk menata bumi, membaca wahyu untuk menata diri, dan membaca keesaan Tuhan untuk menyatukan arah hidup manusia.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img