BerandaInspirasiNasehatTadabbur Al An'am (6): 103, Melihat yang Tak Terlihat: Etika Pandangan

Tadabbur Al An’am (6): 103, Melihat yang Tak Terlihat: Etika Pandangan

spot_img

KABARLAH.COM – لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَٰرَ ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

Arab-Latin: Lā tudrikuhul-abṣāru wa huwa yudrikul-abṣār, wa huwal-laṭīful-khabīr

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Di zaman ketika mata menjadi “raja” pengetahuan, kita sering terjebak pada satu kesimpulan diam-diam: yang tidak terlihat berarti tidak nyata. Kita menilai kebenaran dari apa yang tertangkap kamera, statistik, atau layar. Namun Al-Qur’an datang merombak kesombongan itu dengan satu ayat yang ringkas tetapi mengguncang fondasi cara pandang manusia:

“Penglihatan tidak dapat menjangkau-Nya, tetapi Dia menjangkau segala penglihatan; dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An‘ām: 103)

Ayat ini bukan sekadar informasi akidah. Ia adalah revolusi epistemologi, koreksi spiritual, dan sekaligus fondasi etika publik. Dalam bahasa sederhana: manusia boleh melihat dunia, tetapi jangan pernah merasa menjadi pusat penglihatan.

Ketika indera diberi tempat, tapi tidak dituhankan

Secara zahir, ayat ini menegaskan batas paling mendasar manusia: mata tidak mampu meng-idrak Allah, yakni tidak mampu meliputi hakikat Dzat-Nya. Ini bukan penolakan terhadap wujud Allah; justru sebaliknya, ini penegasan keagungan-Nya. Allah ada, tetapi tidak tunduk pada alat ukur makhluk.

Di sini tampak kematangan Islam: ia tidak anti-akal, tetapi juga tidak menyembah akal. Islam tidak memusuhi observasi, tetapi menolak arogansi observasi. Sains tetap mulia di wilayahnya, namun ia bukan “hakim terakhir” atas seluruh realitas. Ada wilayah metafisika yang hanya dapat diterima lewat wahyu yang benar (khabar ṣādiq), dibimbing akal yang tawaduk, dan ditanamkan dalam hati yang jujur.

Maka, QS 6:103 sesungguhnya membangun tiga lapisan pengetahuan: indera untuk menangkap gejala, akal untuk mengolah makna, wahyu untuk menuntun horizon. Tanpa wahyu, akal bisa cerdas tapi tersesat; tanpa akal, iman bisa hangat tapi rapuh; tanpa adab, keduanya berubah menjadi kesombongan.

Kita melihat, tetapi juga selalu “terlihat”

Frasa kedua, “wa huwa yudrikul-abṣār”, lebih mengguncang lagi: Allah menjangkau seluruh penglihatan. Ini tidak berhenti pada “Allah tahu apa yang kamu lihat,” tetapi lebih dalam: Allah mengetahui cara kamu melihat, motif kamu melihat, luka yang lahir dari penglihatanmu, dan arah hidup yang dibentuk oleh apa yang kamu konsumsi dengan matamu.

Dalam dunia digital, ini terasa sangat relevan. Hari ini mata kita tidak pernah benar-benar istirahat: berita, konten, iklan, citra tubuh, kemewahan, kemarahan, sensasi, fitnah—semua berebut ruang kesadaran. Kita pikir hanya menonton, padahal diam-diam sedang dibentuk. Kita pikir hanya melihat, padahal sedang mengizinkan sesuatu menulis ulang jiwa kita.

Di titik ini, ayat tersebut melahirkan etika penglihatan: menundukkan pandangan bukan sekadar hukum privat, tetapi strategi menjaga kebebasan batin. Sebab mata yang tak dijaga akan menyeret akal menjadi pembenar nafsu. Sebaliknya, mata yang dijaga melahirkan kejernihan berpikir, kehalusan rasa, dan keteguhan adab.

Al-Laṭīf dan Al-Khabīr: Tuhan yang Mahatinggi namun Mahadekat

Penutup ayat, “wa huwal-Laṭīful-Khabīr”, adalah puncak keindahan teologisnya. Allah Mahatinggi, tak terjangkau oleh penglihatan; tetapi pada saat yang sama Dia Mahahalus dan Maha Mengetahui detail paling tersembunyi. Ini menghapus dua salah paham sekaligus: Allah bukan “jauh tak terjangkau” seperti konsep ketuhanan yang dingin, dan bukan pula “dekat secara serupa makhluk.”

Nama Al-Laṭīf memberi harapan bagi jiwa yang patah: pertolongan Allah sering datang dalam bentuk yang sunyi, tidak dramatis, tetapi tepat waktu. Nama Al-Khabīr memberi rasa aman: tidak ada air mata yang “tak terbaca”, tidak ada doa yang “tidak terdata”, tidak ada luka yang “tak dipahami”. Dalam bahasa batin: ketika manusia gagal mengerti kita, Allah tidak pernah salah membaca kita.

Menjaga keseimbangan : tanzih tanpa ta‘thil, iman tanpa tasybih

Dalam kerangka Ahlus Sunnah, ayat ini juga penting untuk menjaga keseimbangan akidah. Di dunia, Allah tidak dapat dicakup penglihatan makhluk. Di akhirat, kaum beriman mendapat karunia ru’yatullah—tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa membahas “bagaimana”-Nya. Keseimbangan ini menyelamatkan umat dari dua jurang:

tasybih/tajsim: menyerupakan Allah dengan yang terbatas,

ta‘thil: menolak sifat-sifat Allah hingga agama menjadi abstrak tanpa kedekatan ruhani.

Di sinilah kedewasaan teologi bekerja: Allah ditanzihkan setinggi-tingginya, tetapi hubungan hamba dengan-Nya tetap hangat, hidup, dan transformatif.

Dari tadabbur menuju amal: program harian “puasa mata”

Tadabbur tidak boleh berhenti di retorika. Ayat ini menuntut disiplin praksis. Bentuk paling sederhana namun revolusioner: puasa mata.

Menahan diri dari konten yang mengeraskan hati.

Menghindari melihat aib orang dengan nikmat tersembunyi.

Menolak budaya membandingkan hidup secara berlebihan.

Melatih pandangan kasih: melihat manusia sebagai amanah, bukan objek.

Lalu lanjut ke muhasabah visual: apa yang paling banyak saya lihat hari ini? Apakah yang saya lihat mendekatkan saya pada Allah, atau menjauhkan saya dari diri yang jernih? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi dari sinilah peradaban akhlak dimulai.

Relevansi filosofis-sosial: kebebasan yang bertanggung jawab

Secara filosofis, ayat ini mengoreksi gagasan kebebasan modern yang sering berdiri tanpa langit. Manusia memang subjek yang melihat, memilih, menilai. Tetapi ia bukan subjek absolut. Ia tetap berada dalam horizon Pengetahuan Mutlak Allah. Artinya, kebebasan manusia bukan untuk liar, melainkan untuk bertanggung jawab.

Dari sini lahir etika sosial: tidak manipulatif dalam media, tidak eksploitatif dalam ekonomi visual, tidak pornografis dalam budaya popular, tidak zalim dalam politik citra. Karena semua proyek publik pada akhirnya adalah proyek penglihatan: apa yang ditampakkan, apa yang disembunyikan, siapa yang dibuat terlihat, siapa yang dihapus dari layar sejarah.

Akhiran

QS. Al-An‘ām (6):103 mengajarkan satu pelajaran besar: kita tidak akan pernah “menguasai” Tuhan dengan mata, tetapi kita bisa dimuliakan Tuhan dengan adab pandangan. Inilah inti tadabbur: dari kesombongan mengetahui menuju kerendahan menyaksikan; dari mata yang rakus menuju mata yang amanah; dari agama sebagai wacana menuju agama sebagai cara memandang dunia.

Akhirnya, ukuran hidup bukan seberapa banyak kita melihat, tetapi seberapa benar kita melihat. Bukan seberapa luas kita menatap dunia, tetapi seberapa dalam kita sadar bahwa setiap tatapan kita berada dalam ilmu Allah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Di titik itulah iman menjadi cahaya, ilmu menjadi adab, dan amal menjadi jalan pulang.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img