BerandaOpinionKetika Ayah Tak Punya Tempat untuk Disebutkan

Ketika Ayah Tak Punya Tempat untuk Disebutkan

spot_img

KABARLAH.COM, PEKANBARU – Coba kita perhatikan pelan-pelan, sambil ngopi atau menunggu mahasiswa masuk kelas.

Di kota ini—bahkan di negeri ini—kita sangat akrab dengan istilah ibu.

Ada rumah sakit ibu dan anak, ibu kota, ibu jari, hari ibu, bahkan ibu pertiwi.

Tapi anehnya, hampir tak pernah kita temukan rumah sakit ayah, ayah kota, hari ayah (yang dulu nyaris tak terdengar), apalagi ayah jari.

Ayah seolah hadir… tapi tidak disebut.

Ayah Selalu Ada, Tapi Tak Perlu Diperingati?

Dalam konstruksi sosial kita, ayah sering diposisikan sebagai sosok yang “ya memang begitu seharusnya”.

Bekerja.

Menyediakan.

Menguatkan.

Diam.

Mungkin karena itu, negara dan masyarakat merasa tak perlu menamainya secara khusus. Ayah dianggap fondasi—dan fondasi memang jarang dipuji, karena yang terlihat selalu bangunan di atasnya.

Rumah sakit diberi nama ibu dan anak, karena ibu diasosiasikan dengan merawat, melahirkan, dan mengasuh. Ayah? Diasosiasikan dengan biaya persalinan.

Ibu Kota, Bukan Ayah Kota

Kenapa pusat pemerintahan disebut ibu kota?

Karena kota dipandang sebagai ruang yang menghidupi:

memberi pelayanan, perlindungan, dan rasa aman.

Sifat-sifat ini dilekatkan pada figur ibu.

Ayah? Lebih sering dibayangkan sebagai pihak yang menjaga dari jauh, memastikan logistik cukup, lalu pulang larut malam dengan wajah lelah. Ayah bukan simbol kehangatan kota, tapi mesin penggeraknya.

Dalam ilmu perencanaan wilayah dan kota, kita sering bicara tentang kota layak huni. Menariknya, konsep “layak huni” itu pun sangat keibuan: ramah, aman, nyaman, inklusif. Ayah lagi-lagi bekerja di balik layar.

Ibu Jari, Bukan Ayah Jari

Ini bagian paling tragis sekaligus lucu.

Jari paling kuat, paling dominan, paling sering dipakai—disebut ibu jari.

Padahal kalau jari-jari itu rapat dan menggenggam, bukankah fungsinya seperti ayah? Menguatkan yang lain agar tidak tercerai-berai.

Tapi lagi-lagi, yang diberi nama adalah ibu.

Ayah cukup tahu fungsinya, tak perlu namanya disebut.

Hari Ayah Datang Terlambat

Hari Ibu sudah lama diperingati, dirayakan, dipuji dengan puisi dan lagu.

Hari Ayah? Datangnya belakangan, dan sering lewat begitu saja.

Bukan karena ayah tak penting, tapi karena ayah terlalu sering dianggap tidak perlu dirayakan.

Ayah identik dengan kewajiban, bukan emosi.

Dengan tanggung jawab, bukan perasaan.

Padahal, justru karena itu ayah sering menanggung sendiri rasanya.

Ayah dan Sunyi yang Normal

Ayah jarang bercerita lelah.

Jarang mengeluh.

Jarang diberi ruang untuk rapuh.

Dalam banyak keluarga, ayah boleh sakit tapi tidak boleh lemah.

Boleh gagal, tapi tidak boleh berhenti.

Boleh sedih, tapi sebaiknya diam.

Sunyi pada ayah sering dianggap normal.

Mungkin Ayah Tak Perlu Nama, Tapi Perlu Dipahami

Mungkin benar, ayah tidak butuh rumah sakit atas namanya.

Tidak butuh ibu kota diganti jadi ayah kota.

Tidak perlu ayah jari menggantikan ibu jari.

Tapi ayah tetap manusia.

Dan manusia, sesederhana apa pun perannya, butuh diakui, disebut, dan dipahami.

Jika ibu adalah wajah kota, maka ayah adalah jalannya.

Tak selalu indah, sering berlubang, tapi tanpanya kita tak sampai ke mana-mana.

Dan mungkin, justru karena ayah selalu ada tanpa diminta disebut,

kita perlu sesekali menyebutnya—dengan sadar, dengan hormat, dan dengan hati.

Oleh : Mardianto Manan (Dosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota UIR).

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img