KABARLAH.COM – فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Fa aqim waj-haka lid-dīni ḥanīfā, fiṭratallāhillatī faṭaran-nāsa ‘alaihā, lā tabdīla likhalqillāh, żālikad-dīnul qayyimu wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Ada ayat yang jika dibaca pelan, terasa seperti Allah sedang mengembalikan kita ke “pabrik asal” ruhani manusia: bukan untuk membuat kita kehilangan identitas, tetapi justru untuk menemukan identitas yang paling jujur. QS. Ar-Rūm (30): 30 adalah seruan agar manusia memutar kembali arah wajahnya—arah hidupnya—kepada agama yang hanīf, agama yang kokoh, agama yang sejalan dengan fitrah.
Ayat dimulai dengan perintah yang sangat eksistensial: فَأَقِمْ وَجْهَكَ (maka tegakkanlah wajahmu). “Wajah” bukan sekadar bagian tubuh; ia simbol arah, orientasi, pusat kendali. Di sinilah Islam bukan sekadar “yang kita anut”, melainkan yang kita hadapkan: tempat kita menaruh harap, takut, cinta, dan keputusan. Lalu Allah memberi sifat arah itu: لِلدِّينِ حَنِيفًا—agama yang hanīf. Hanīf bukan hanya “Islam” sebagai nama, tetapi lurus: condong ke tauhid, menjauh dari segala bentuk penyekutuan, dan menolak menjadi budak hawa nafsu.
Populis: “Kembalilah sebelum hidupmu melenceng”
Dalam bahasa umat, ayat ini seperti Allah berkata: “Jangan tunggu hidup memaksa kamu untuk sadar.” Banyak orang baru kembali kepada Allah setelah patah, sakit, kehilangan, atau dipermalukan. Ayat ini mengajari jalan yang lebih mulia: kembali karena sadar, bukan karena terpaksa.
Kemudian Allah menyebut fitrah: فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا. Fitrah adalah “setelan bawaan” manusia: kecenderungan mengenal Allah, suka kebenaran, malu pada dosa, cinta keadilan, dan resah pada kebatilan. Nabi ﷺ menegaskan prinsip besar ini: “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Ini bukan menyalahkan orang tua semata, tetapi menegaskan betapa kuatnya pengaruh lingkungan. Maka, kalau hari ini kita merasa jauh, jangan langsung putus asa: bisa jadi fitrah kita tidak mati—hanya tertutup.
Lalu Allah menutup bagian tengah ayat dengan kalimat yang sering disalahpahami: لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ. Banyak orang membacanya hanya sebagai “fitrah tidak bisa diubah” lalu merasa aman. Padahal para ulama menafsirkan: ini bisa bermakna berita yang mengandung perintah: jangan merusak; jangan memutar balik; jangan menukar kompas asli dengan kompas palsu. Jika fitrah itu mata air, dosa adalah debu; pengulangan dosa menjadi kerak. Maka “lā tabdīla” mengajari: jangan jadikan kerak itu identitas.
Akademik: “fitrah = Islam” menurut jalur tafsir klasik
Dalam tradisi tafsir Sunni, banyak atsar dari sahabat dan tabi‘in yang menafsirkan fitrah sebagai Islam/tauhid. Al-Ṭabarī menukil bahwa “fitrah” adalah agama Allah yang manusia diciptakan untuknya; “lā tabdīla” dipahami sebagai “tidak ada perubahan untuk دين الله”—yakni jalan tauhid itu tetap benar, tidak akan berubah menjadi salah meski manusia menolaknya. Al-Qurṭubī merinci sisi bahasa dan i‘rab: “fitrah” dapat dipahami sebagai objek yang harus dijaga/diikuti—seolah ayat berkata: “Tegakkanlah wajahmu… (dengan menjaga) fitrah Allah.”
Ibn Kathīr menambahkan penekanan tarbawi: kalimat itu berbentuk berita namun bermaksud larangan: jangan ubah manusia dari fitrah yang Allah tetapkan. Ini penting, karena ayat lalu menegaskan: ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ—itulah agama yang kokoh/tegak. Kokoh karena ia sesuai dengan ciptaan, sesuai dengan akal sehat, sesuai dengan kebutuhan ruh, dan tidak bertentangan dengan hukum semesta.
Hadits qudsi yang sahih (dalam riwayat Muslim) menguatkan sisi ini: Allah menciptakan hamba-hamba-Nya dalam keadaan lurus/hanif, lalu setan memalingkan mereka. Di sini terlihat: penyimpangan bukan “takdir fitrah”, melainkan gangguan yang menutupi fitrah. Maka terapi Islam bukan mengganti fitrah, tetapi membersihkannya.
Filosofis: fitrah sebagai “hukum terdalam” manusia
Secara filosofis, ayat ini menaruh identitas manusia bukan pada “apa yang dipuji dunia”, melainkan pada “apa yang diakui ruh.” Dunia sering menawarkan identitas sebagai produk sosial: prestasi, citra, pengaruh, kekayaan. Tetapi Qur’an berkata: identitas terdalam manusia adalah fitrah ilahiah—kesanggupan mengenal Tuhan dan menjalani hidup bermakna. Karena itu, Islam sebagai dīn al-qayyim bukan hanya “aturan”, melainkan jalan selaras: ketika manusia melawan fitrah, ia mengalami disonansi—gelisah, kosong, mudah marah, mudah putus harap. Ketika manusia kembali, ia mengalami koherensi—tenang, tegak, tahu arah.
“Hadapkan wajah” berarti: pusat gravitasi batin hanya satu. Hati yang punya dua kiblat—Allah dan ego—akan retak. Hati yang kiblatnya tunggal—Allah—akan stabil. Di sinilah rahasia agama yang kokoh: ia menegakkan manusia dari dalam, bukan sekadar mempercantik kulit luar.
Jejak ulama kontemporer: tarbiyah fitrah
Dalam corak tarbiyah, Syekh Said Hawwa dikenal menekankan keterkaitan ayat dan pendidikan iman. Ayat fitrah menjadi dasar pembinaan: dakwah bukan hanya “mengajak orang berganti label”, melainkan mengembalikan manusia kepada tauhid yang memang sesuai dirinya.
Syekh Ali ‘Abdul Halim Mahmud menekankan tarbiyah ruhiyah yang membangkitkan hati: iman harus menembus kebiasaan, membentuk akhlak, dan menata kehidupan. Syekh Ramadhan al-Būṭī sering menekankan bahwa Islam adalah agama fitrah: ia seimbang—menghormati akal, menghidupkan ruh, dan menuntun kebutuhan manusia tanpa merusak kemanusiaan.
Pendekatan “Al-Qur’an Tadabbur wa ‘Amal” menekankan buahnya: tadabbur harus turun menjadi amal. Maka ayat fitrah bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk dijadikan peta pulang. Sedangkan “Al-Fathun Nawa” disebut memakai pola ayat-bil-ayat dengan sentuhan ilmiah; namun secara aman, ia hanya penguat—porosnya tetap tafsir mu‘tabar Ahlus Sunnah.
Akhiran: fitrah dijaga, bukan dibiarkan
Maka tadabbur ayat ini berujung pada lima langkah:
- perbarui kiblat hidup (shalat tepat waktu dan niat lurus),
- rawat fitrah dengan taubat cepat,
- lawan distorsi (dosa tersembunyi dan kesombongan),
- pilih lingkungan yang menguatkan iman,
- ukur kelurusan bukan dari “aku merasa benar”, tetapi dari “aku tunduk pada wahyu.”
QS 30:30 adalah panggilan pulang: menjadi manusia seutuhnya berarti menjadi hamba yang selaras dengan fitrah—dan fitrah menemukan rumahnya dalam tauhid.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



