KABARLAH.COM – “فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ أَزْوَٰجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Fāṭirus-samāwāti wal-arḍ, ja’ala lakum min anfusikum azwājaw wa minal-an’āmi azwājā, yażraukum fīh, laisa kamiṡlihī syaī, wa huwas-samī’ul-baṣīr
Artinya: (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.
“Tauhid yang Sehat: Ketika Allah Tidak Diserupakan, Namun Tetap Dikenal”
Ada ayat yang menjadi “tulang punggung” akidah Ahlus Sunnah: satu kalimatnya mematahkan semua bayangan, satu penutupnya menghidupkan semua harapan. QS. Asy-Syūrā (42): 11 berbicara tentang Allah sebagai Fāṭir (Pengada/Pencipta pertama), lalu menyentuh realitas paling dekat dengan manusia: pasangan, keluarga, dan regenerasi—kemudian memancang pagar tauhid: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Tetapi ayat ini tidak berhenti pada “menolak keserupaan”; ia menutup dengan penetapan sifat yang menenangkan: “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Inilah keseimbangan yang mengantar iman menjadi jernih: tanzīh (menyucikan Allah dari penyerupaan) sekaligus itsbāt (menetapkan apa yang Allah tetapkan tentang diri-Nya).
Populis: Dua tangan yang memegang aqidah kita
Dalam bahasa umat, ayat ini seperti dua tangan yang menahan kita agar tidak terpeleset ke dua jurang. Jurang pertama: menganggap Allah seperti makhluk—membayangkan bentuk, arah, atau sifat Allah sebagaimana sifat manusia. Jurang kedua: kebalikan ekstremnya—mengosongkan Allah dari sifat-sifat-Nya sampai Tuhan menjadi sekadar “konsep kosong” yang jauh dan tidak hadir.
Allah membuka ayat dengan tanda-tanda yang mudah dipahami: langit dan bumi bukan terjadi sendiri—Allah memulai penciptaannya. Lalu Allah menurunkan pelajaran itu ke rumah kita: Dia menjadikan manusia berpasang-pasangan, hewan ternak berpasangan, dan dari sanalah kehidupan berkembang. Ini bukan sekadar informasi biologis; ini bahasa kasih sayang: Allah mengajari kita bahwa hidup ini tumbuh dengan keteraturan, keberlanjutan, dan hikmah. Namun, setelah menunjukkan “jejak-Nya” di alam, Allah menutup pintu salah paham: “Jangan samakan Aku dengan apa pun.”
Lalu datang kalimat penguat yang sangat menenteramkan: “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Seakan Allah berkata: “Aku tidak serupa makhluk—tapi Aku tidak jauh. Aku mendengar doamu, melihat pergulatanmu, mengetahui air matamu.” Maka ayat ini menyembuhkan dua penyakit sekaligus: penyakit “membayangkan Tuhan” dan penyakit “merasa Tuhan tidak hadir.”
Akademik: Formula Ahlus Sunnah dalam satu ayat
Secara akademik, ayat ini adalah landasan manhaj aqidah Sunni: menetapkan apa yang datang dalam nash dengan adab ilmiah—tanpa merusak makna dan tanpa menyelundupkan imajinasi. Para ulama tafsir menyebut “Fāṭir” sebagai pengada pertama—menciptakan tanpa contoh. Lalu frasa “Dia menjadikan pasangan dari kalian sendiri…” mengisyaratkan rubūbiyyah Allah yang merangkul: Allah mengatur tatanan sosial dan biologis, bukan sekadar menciptakan lalu meninggalkan.
Puncak ayat ini adalah kalimat: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ. Secara balaghah, ini penafian yang sangat tegas: Allah menutup kemungkinan perbandingan. Ini penting, karena di dunia gagasan, bahaya terbesar bukan ateisme yang terang, melainkan “teologi khayal”: menyusun Tuhan menurut selera manusia. Ayat ini menghancurkan sumber khayal itu: Allah tidak bisa diperlakukan seperti “objek” yang bisa diserupakan.
Tetapi ayat tidak membiarkan penafian itu berubah menjadi kekosongan. Ia langsung menetapkan: السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. Ini pola Qur’ani yang sangat mendidik: menafikan kekurangan, menetapkan kesempurnaan. Maka Ahlus Sunnah memegang kaidah: menetapkan sifat Allah sebagaimana datang dalam wahyu, tanpa menanyakan “bagaimana” (takyīf),.tanpa menyerupakan (tamtsīl), tanpa mengubah makna (taḥrīf), dan tanpa meniadakan (ta‘ṭīl). Di sinilah kekuatan ayat: ia sekaligus memagari akal dan menyehatkan hati.
Filosofis: Tuhan tidak bisa direduksi menjadi “model mental”
Secara filosofis, ayat ini memisahkan “yang mutlak” dari “yang terbatas.” Segala sesuatu yang kita pahami biasanya masuk melalui analogi: kita mengenal sesuatu dengan membandingkan. Tapi Allah menegaskan: analogi itu patah ketika menyentuh Dzat-Nya—karena Allah bukan bagian dari kategori makhluk. Maka kalimat “tidak ada yang serupa dengan-Nya” bukan sekadar larangan menggambar Tuhan; ia adalah pernyataan tentang batas ontologis: yang dicipta tidak bisa mengurung Sang Pencipta dalam kotak konseptual.
Namun manusia tetap butuh “jalan mengenal” Allah. Di sinilah penutup ayat menjadi kunci epistemologi iman: Allah tidak diserupakan, tetapi Allah memperkenalkan diri melalui Asmā’ dan Ṣifāt yang layak bagi kemuliaan-Nya. “Maha Mendengar, Maha Melihat” adalah cara Allah mendekatkan diri kepada pemahaman manusia—bukan agar kita membayangkan telinga dan mata seperti makhluk, melainkan agar hati kita memahami: Allah mengetahui secara sempurna, hadir secara sempurna, mengurus secara sempurna.
Batin: dari “sandaran makhluk” menuju “muraqabah”
Batin ayat ini bukan sekadar pelajaran teologi; ia terapi ruhani. Banyak kegelisahan lahir dari sandaran yang salah: kita menggantungkan rasa aman pada manusia, sistem, uang, atau nama besar. Kalimat “Tidak ada yang serupa dengan-Nya” meruntuhkan semua ilah kecil itu: semuanya makhluk, semuanya terbatas, semuanya bisa luput. Lalu “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” membangun sandaran yang benar: Allah mendengar ketika manusia tidak mendengar; Allah melihat ketika manusia menilai salah; Allah tahu niat ketika manusia hanya melihat tindakan.
Dari sini lahir muraqabah: rasa diawasi yang menyehatkan. Ia membuat ikhlas menjadi mungkin, karena kita beramal bukan demi dilihat manusia. Ia juga membuat sabar menjadi kuat, karena kita yakin Allah melihat luka yang tidak dipahami orang.
Tadabbur jadi amal: “tanzīh + itsbāt” dalam hidup harian
Jika ayat ini diturunkan menjadi langkah, maka:
- Jaga lisan dan pikiran dari membayangkan Allah seperti makhluk. Iman tidak butuh gambar; iman butuh tunduk.
- Rawat doa dan kejujuran batin, karena Allah Maha Mendengar. Banyak orang kuat di depan manusia, rapuh sendirian—ayat ini mengajari: bicara kepada Allah.
- Perhalus adab, karena Allah Maha Melihat: bukan hanya “apa” yang kita lakukan, tetapi “mengapa” kita melakukannya. Kuatkan tawakkal, sebab Dia Fāṭir yang mengatur sebab-sebab kehidupan—pasangan, keluarga, rezeki, dan perjalanan waktu. Bersihkan tauhid, agar rasa aman berpindah dari makhluk ke Allah.
Akhiran: QS. 42:11 adalah tauhid yang sehat: Allah tidak diserupakan—agar iman tidak menjadi imajinasi; dan Allah Maha Mendengar-Maha Melihat—agar iman tidak menjadi kehampaan. Di antara dua kutub ini, seorang mukmin tumbuh: akalnya terjaga, hatinya tenang, amalnya ikhlas. Ini bukan sekadar ayat tentang “konsep Tuhan”; ini ayat tentang cara hidup seorang hamba.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab



