BerandaInspirasiNasehatTadabbur QS Ali Imran (3): 83, Agama Semesta: Ketika Seluruh Wujud Bersujud,...

Tadabbur QS Ali Imran (3): 83, Agama Semesta: Ketika Seluruh Wujud Bersujud, Manusia Diminta Memilih

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada ayat yang jika dibaca pelan, ia terdengar seperti pertanyaan—padahal hakikatnya adalah keputusan:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ
“Apakah mereka mencari agama selain agama Allah?”
وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا
“Padahal kepada-Nya berserah diri siapa pun di langit dan di bumi, suka maupun terpaksa…”
وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”

Ayat ini bukan sekadar debat tentang “agama mana yang benar.” Ia lebih radikal: ia berbicara tentang struktur realitas. Seolah Allah berkata, “Sebelum kamu menentukan jalan, pahami dulu panggungnya: panggung ini milik-Ku, hukum mainnya milik-Ku, dan ujungnya kembali kepada-Ku.”

Populis: “Kalian mau lari ke mana?”

Dalam bahasa umat, ayat ini seperti menggugurkan satu kebiasaan manusia: mencari “jalan alternatif” saat wahyu terasa berat. Kita sering ingin agama yang “ramah selera”: yang mengizinkan ego, menormalisasi hawa nafsu, dan memeluk kenyamanan tanpa disiplin. Tetapi Allah bertanya: “Kalian mau cari agama selain agama Allah?”

Mengapa pertanyaannya terasa menohok? Karena Allah lalu menyatakan fakta yang tidak bisa dibantah: seluruh langit dan bumi sudah ‘aslama’ kepada-Nya. Artinya, semesta ini berjalan dalam ritme ketetapan Allah. Matahari tidak pernah telat terbit “karena mood.” Hujan tidak turun karena “tekanan sosial.” Tubuh kita menua tanpa minta izin. Bahkan orang yang menolak Allah pun tetap tidak bisa lari dari hukum-Nya: ia tetap makan, sakit, lelah, menua, lalu mati.

Di sinilah ayat mengoreksi ilusi: “Aku mau caraku sendiri.” Boleh, kata ayat, tetapi caramu sendiri tidak mengubah kenyataan bahwa kamu tetap berada dalam kerajaan Allah. Beda hanya satu: apakah kamu tunduk dengan sadar, atau tunduk karena dipaksa realitas.

Akademik: “Din Allah” sebagai tauhid para nabi, dan makna “taw‘an wa karhan”

Secara tafsir , “dīn Allah” adalah agama tauhid—penghambaan hanya kepada Allah—yang dibawa seluruh nabi. Ayat ini datang dalam rangkaian yang sangat elegan: setelah pembahasan janji kenabian (3:81–82), Allah mengunci prinsipnya: agama Allah satu, lalu langsung disambung dengan deklarasi iman kepada semua nabi (3:84) dan penegasan bahwa selain Islam (kepasrahan kepada Allah) tidak diterima (3:85). Jadi, ayat ini bukan berdiri sendiri; ia seperti “gerbang” menuju dua ayat setelahnya.

Kunci akademiknya ada pada frasa: طَوْعًا وَكَرْهًا (suka dan terpaksa). Para ulama memahaminya dengan dua lapis:

  1. Taw‘an: kepatuhan iman dan ibadah—tunduknya hati yang menerima kebenaran;
  2. Karhan: kepatuhan takdir—tunduknya tubuh dan hidup pada hukum Allah meski hati menolak.

Artinya, bahkan penolak kebenaran pun “muslim” dalam satu sisi: ia tetap ditundukkan oleh sunnatullah, hanya saja ia tidak mendapat kemuliaan “tunduk sadar.” Maka ayat ini menempatkan manusia di tengah dua kemungkinan: tunduk yang memuliakan atau tunduk yang menghinakan.

Filosofis: Islam sebagai keselarasan dengan tatanan wujud

Secara filosofis, ayat ini menyebut satu tesis besar: semesta adalah sistem kepatuhan. Segala sesuatu bergerak “menurut takaran”—bukan liar. Bila demikian, maka “Islam” bukan hanya nama komunitas; ia adalah hukum keselarasan: selaras dengan Rabb, selaras dengan fitrah, selaras dengan tujuan penciptaan.

Manusia diberi kebebasan—tetapi kebebasan itu bukan lisensi menjadi “tuhan kecil.” Kebebasan adalah kehormatan untuk memilih:

Apakah aku tunduk karena mencintai kebenaran?

Ataukah aku menolak sampai aku dikalahkan oleh konsekuensi?

Di titik ini, ayat menelanjangi watak manusia modern: kita ingin otonomi mutlak, padahal otonomi mutlak hanya milik Allah. Kita ingin menentukan “hakikat” dengan selera, padahal hakikat ditentukan oleh Yang Menciptakan. Maka ayat ini mengembalikan definisi “kebebasan”: kebebasan yang sejati adalah memilih ketaatan sebelum dipaksa keadaan.

Batin: taslīm sebagai kedewasaan ruhani

Batin ayat ini adalah latihan “taslīm” (menyerah) yang bukan pasif. Taslīm bukan menyerah tanpa ikhtiar, tetapi menyerahkan “pusat kendali hati” kepada Allah:

ketika diberi nikmat, hati tidak sombong;

ketika diuji, hati tidak protes dengan kebencian;

ketika disuruh taat, hati tidak menawar-nawar dengan ego.

Jika “taw‘an” adalah tunduk yang membahagiakan, maka “karhan” adalah tunduk yang melelahkan: hidup terasa memukul kita, padahal yang memukul itu bukan takdir, melainkan perlawanan batin terhadap takdir. Ayat ini mengajak kita pindah dari “agama resistensi” menuju “agama kepasrahan sadar.”

Jejak tarbiyah: Hawwa–‘Ali Abdul Halim Mahmud–al-Būṭī

Dalam nuansa tarbiyah, Syekh Said Hawwa dikenal menggarisbawahi munāsabah: ayat 3:83 sebagai simpul yang merangkum—setelah komitmen kenabian—lalu membawa pembaca ke deklarasi iman menyeluruh (3:84). Pesannya: iman tidak boleh parsial; ia harus tunduk pada Allah dan menerima rangkaian risalah-Nya.

Dalam jalur ruhiyah-amaliyah, Syekh Ali ‘Abdul Halim Mahmud menekankan pendidikan yang menjadikan seluruh hidup sebagai ibadah; ayat ini menjadi fondasi: “aslama” bukan ritual, tetapi kompas hidup.

Sedangkan Syekh Ramadhan al-Būṭī sering menegaskan Islam sebagai kelanjutan hanifiyyah Ibrahim: tunduk pada wahyu, bukan spekulasi; ayat ini mengunci bahwa “agama Allah” bukan ciptaan budaya, melainkan kebenaran yang melintas zaman.

Tadabbur menjadi amal: lima “latihan taslīm”

  1. Doa harian: “Ya Allah, ajari aku taslīm sebelum dipaksa keadaan.” Taat pada hal kecil: shalat tepat waktu, jujur, menahan lisan—ini “taw‘an” yang melatih jiwa.
  2. Ikhtiar tanpa protes batin: usaha maksimal, tapi hati tidak menggugat Allah saat hasil berbeda.
  3. Iman yang utuh: hormati seluruh rasul dan wahyu—jangan pilih-pilih agama sesuai selera. Muhasabah: di mana aku masih mencari “agama selain din Allah”?—yakni ketika aku menuruti ego di atas wahyu.

Akhiran: QS. 3:83 adalah undangan pulang kepada realitas paling jernih: seluruh alam sudah berserah.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita berserah dengan sadar—sehingga Islam menjadi kemuliaan—atau berserah karena terpaksa—sehingga hidup menjadi perlawanan yang melelahkan?.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img