KABARLAH.COM – ٱللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيَـٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Allah membalas ejekan mereka, dan membiarkan mereka terus (bertambah) dalam kesombongan mereka; mereka berjalan terhuyung-huyung (tanpa arah).”
Ada ayat-ayat yang terasa seperti palu halus: tidak menghancurkan telinga, tetapi menghantam pusat kesadaran. QS 2:15 termasuk jenis itu. Ia tidak sekadar memotret munafik sebagai “orang bermuka dua”, melainkan membongkar mekanisme batin: bagaimana kebohongan yang dipelihara berubah menjadi “alam” yang menelan pelakunya—hingga ia bergerak, berbicara, dan bergaul, tetapi di dalam dirinya tersesat, bingung, dan gelap.
Hukum balasan yang adil, bukan “main-main”
Dalam bahasa umat, ayat ini seperti berkata: “Jangan kira mengejek agama itu lucu.” Mereka menertawakan iman—tetapi Qur’an mengajari: kebenaran tidak butuh pembelaan kita; ia punya pembelaan Tuhan. Kalimat “Allah membalas ejekan mereka” harus dibaca sebagai balasan setimpal (jazā’), bukan sifat “olok-olok” yang berdiri sendiri. Ini garis adab akidah Ahlus Sunnah: lafaz yang tampak “mirip” sifat manusia, dipahami sesuai kemuliaan Allah—yakni sebagai tindakan pembalasan yang adil, bukan perilaku bermain-main.
Di sini, orang munafik tidak dihukum karena “lemah iman” semata, tetapi karena menjadikan iman sebagai topeng sosial: di depan orang beriman mereka meraih keamanan, di belakang mereka menghina. Maka balasan Allah pun sepadan: mereka diberi ruang untuk terus “bermain peran”—sampai peran itu mengunci jiwa mereka, dan pada akhirnya mereka mendapati diri sendiri sebagai korban dari panggung yang mereka bangun.
Dua kata kunci;
yumidduhum dan ya‘mahūn
Ayat ini tajam secara bahasa. Kata وَيَمُدُّهُمْ (yumidduhum) memberi nuansa “memanjangkan, memperpanjang, menambah.” Secara ilmiah (tafsir), ini sering dijelaskan sebagai bentuk imlā’ (penangguhan) yang dapat berwajah rahmat atau istidrāj, tergantung respons manusia. Ada orang diberi waktu lalu ia kembali; ada yang diberi waktu lalu ia makin pongah. Ini sejalan dengan pola Qur’an di tempat lain: Allah memberi tangguh kepada sebagian orang—bukan karena ridha, tetapi agar hujjah sempurna dan dosa menumpuk karena pilihan mereka sendiri.
Lalu فِى طُغْيَانِهِمْ (fī ṭughyānihim): thughyan bukan sekadar “dosa”, tetapi melampaui batas—moral yang tidak lagi punya rem. Ia bukan kesalahan sesaat; ia adalah sikap batin: menolak kebenaran sambil merayakan penolakan itu.
Puncaknya: يَعْمَهُونَ (ya‘mahūn)—kata yang menggambarkan orang yang berjalan seperti meraba-raba dalam gelap: hidupnya bergerak, tetapi arah hilang. Ini bukan hanya “tidak tahu”, melainkan bingung yang dipelihara. Ia tahu ada cahaya, tetapi memilih menutup mata; akhirnya mata batin kehilangan kemampuan membedakan.
Hukuman paling halus adalah “dibiarkan merasa benar”
Di dunia moral, ada hukuman yang tidak berbentuk petir. Ia berbentuk kesalahpahaman yang terasa nyaman. QS 2:15 mengajarkan: salah satu bentuk murka yang paling halus adalah ketika seseorang dibiarkan terus dalam keyakinan palsu bahwa ia “baik-baik saja.”
Orang munafik sering tidak runtuh karena argumentasi lawan; ia runtuh karena kontradiksi internal: lidah berkata “kami beriman,” hati berkata “kami mengejek.” Dan kontradiksi yang dibiarkan akan menuntut kompensasi: ia butuh menertawakan orang baik agar batinnya tidak ditelanjangi oleh cahaya kebenaran. Maka ejekan itu sebenarnya bukan tanda kuat; ia sering tanda takut—takut pada kebenaran yang menuntut kejujuran.
Di sini relevan pesan Nabi ﷺ tentang pusat kehidupan batin: “Dalam jasad ada segumpal daging; bila ia baik, baiklah seluruh jasad; bila ia rusak, rusaklah seluruh jasad; itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Munafik bukan sekadar salah strategi sosial, tetapi kerusakan hati: retak antara yang diucap dan yang diyakini.
Dan karena itu, ciri munafik yang terkenal—“Jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia ingkar, jika diberi amanah ia khianat” (HR. Bukhari dan Muslim)—bukan daftar “kesalahan kecil”, melainkan peta bagaimana retak batin menetes menjadi perilaku.
Allah membela kebenaran, sekaligus menguji kita
Ayat ini memberi dua pelajaran ruhani:
Pertama, jangan minder di hadapan ejekan. Kebenaran tidak mengecil karena ditertawakan. Justru kadang ejekan adalah pertanda: hati lawan merasa terusik.
Kedua, jangan merasa aman dari penyakit nifaq. Nifaq bukan hanya milik “orang lain.” Ia bisa menyelinap sebagai kebiasaan: ingin dipuji semua pihak, ingin aman di semua majelis, lalu mulai merapikan kata-kata agar diterima—bahkan bila harus mengorbankan kejujuran.
Ulama tarbiyah kontemporer sering menekankan bahwa penyakit hati tidak selalu tampil sebagai dosa besar yang dramatis, tetapi sebagai ketidakjujuran yang dirawat, riya yang dimaklumi, dan sinisme yang dianggap “kecerdasan sosial.” Pada titik ini, QS 2:15 menjadi cermin: ketika sinisme menjadi gaya hidup, Allah bisa membiarkan seseorang menua dalam “ya‘mahūn”—aktif, produktif, tetapi tidak sampai.
Empat pertanyaan yang menyehatkan
- Apakah saya pernah mengecilkan amal shalih (meski dengan humor)?
- Apakah saya punya dua versi diri—satu di majelis baik, satu di majelis sinis?
- Apakah saya menganggap kelapangan hidup sebagai bukti Allah ridha, padahal bisa jadi itu hanya penangguhan agar saya kembali?
- Apakah nasihat terasa mengganggu—tanda hati mulai alergi cahaya?
Penutupnya sederhana, tetapi menuntut: Ya Allah, jadikan kami hamba yang jujur (ṣidq), ikhlas, dan selamat dari istidrāj. Jangan biarkan kami berjalan dalam “ya‘mahūn”—bergerak tanpa arah. Beri kami hati yang hidup, karena hidup yang paling nyata bukan banyaknya aktivitas, tetapi jelasnya tujuan menuju-Mu.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



