BerandaInspirasiNasehatOase Dakwah: “Ma Sya’a Allah, La Quwwata Illa Billah" Jalan Pulang Kesadaran...

Oase Dakwah: “Ma Sya’a Allah, La Quwwata Illa Billah” Jalan Pulang Kesadaran Tauhid

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada saat-saat ketika manusia memasuki wilayah kenikmatan hidup, kesehatan, rezeki, posisi, stabilitas keluarga, kelapangan pikiran. Namun masuk tanpa mengetuk pintunya dengan dzikir. Ia masuk seperti seorang pemilik, bukan tamu. Ia memegang hasil kerja kerasnya seperti sesuatu yang tak mungkin hilang. Ia menepuk dada, melupakan bahwa dirinya pun tak kuasa mengatur detakan jantungnya sendiri. QS Al-Kahf:39 adalah koreksi ilahi terhadap seluruh ilusi semacam itu.

Ayat ini tampak sederhana: sahabat yang beriman menegur pemilik dua kebun kaya raya yang sombong. Tetapi jika direnungi secara filosofis, ia adalah peta ontologis manusia, terapi psikologis, sekaligus mekanisme spiritual untuk menjaga kenikmatan.

Allah mengabadikan ucapan itu: “Mā syā’a Allāh. Lā quwwata illā billāh”. Semua ini terjadi karena kehendak Allah; tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.

“Masya Allah”: Kesadaran Ontologis Seseorang yang Melihat dengan Mata Tauhid

Ketika Al-Qur’an memerintahkan ucapan “Mā syā’a Allāh”, ia sebenarnya tidak sedang mengajari sekadar adab verbal. Ini adalah latihan kesadaran ontologis: memandang wujud dan peristiwa sebagai manifestasi kehendak Allah.

Menurut Imam al-Ghazali, “syuhud rububiyah”—menyaksikan bahwa segala sesuatu berdiri karena Allah—adalah akar dari seluruh amal hati. Said Hawwa menafsirkannya sebagai pijakan ruhani yang menjaga aktivis dakwah dari ghurur perjuangan. Abdul Halim Mahmud menyebut kalimat ini sebagai pembuka mata ketiga hati yang membuat seseorang tidak pernah merasa dirinya pusat semesta.

Ucapan ini membalik paradigma ego

Sebelum berkata “aku yang bekerja”, seorang mukmin berkata “Allah yang mengizinkan”.

Sebelum berkata “ini hasilku”, seorang mukmin berkata “ini titipan-Nya”.

sebelum berkata “usahaku kuat”, ia berkata “Aku hanya disuruh berusaha; yang menumbuhkan adalah Dia.”

Dalam perspektif filosofis, ucapan ini adalah penegasan bahwa manusia bukan penyebab pertama, bukan pencipta dampak, bukan penguasa hasil. Kita hanya bagian kecil dari jejaring kehendak ilahi yang melingkupi seluruh sebab-akibat.

Tanpa kesadaran ini, nikmat berubah menjadi racun: membuat manusia hidup dalam ilusi kontrol. Dan pengidap ilusi ini biasanya tidak sadar bahwa ia sedang sakit.

“Lā Quwwata Illā Billāh”: Pembebasan Jiwa dari Egoisme Modern

Ayat ini melengkapi tauhid dengan kalimat kedua. Menurut Ibn ‘Aṭā’illah, “Tidak bergerak sesuatu tanpa Allah menggerakkannya.” Dalam kerangka tadabbur, kalimat ini membebaskan manusia dari tiga tekanan besar peradaban modern:

Pertama. Tekanan Perfeksionisme (merasa harus selalu hebat)

Kedua. Tekanan Kontrol Masa Depan (merasa harus memastikan semuanya)

Ketiga. Tekanan Pembuktian Diri (merasa nilai diri ditentukan capaian)

“Lā quwwata illā billāh” adalah obat psikis yang luar biasa. Ia mengembalikan manusia ke fitrah kelemahan, bukan untuk membuatnya pasif, tetapi agar ia bekerja tanpa beban kesombongan dan tanpa ketakutan masa depan.

Ramadan al-Buthi menjelaskan bahwa tauhid ini adalah landasan amal efektif: manusia bekerja keras, tetapi hatinya tenang karena ia tahu hasil bukan miliknya. Tidak ada kecemasan, tidak ada hawa nafsu ingin tampil, tidak ada kelelahan jiwa karena merasa memikul semesta.

Kekuatan sejati adalah kekuatan yang dilepas kepada Allah

Dimensi Tadabbur: Membaca Ayat Ini sebagai Metode Hidup

Tadabbur tidak berhenti pada pemahaman teks. Ia mengubah cara memandang realitas. Dari perspektif metodologi “Al-Qur’an Tadabbur & Amal” ayat ini memuat tiga disiplin utama:

a. Tadabbur Nikmat sebagai Tanda

Setiap nikmat tidak boleh dilihat sebagai hasil; ia harus dilihat sebagai pesan.
Jika seseorang masuk ke dalam nikmat tanpa menyebut Allah, itu tanda hatinya sedang kosong.
Inilah yang terjadi pada pemilik kebun: ia memasuki nikmat dengan kesadaran diri, bukan kesadaran Allah.

b. Diagnosa Penyakit Hati

Tadabbur ayat ini mengajak kita bertanya:

Apakah aku melihat nikmat sebagai bukti kepintaranku?

Apakah aku merasa aman dari kehilangan?

Apakah aku menganggap proses sepenuhnya ada dalam kendaliku?

Jika iya, itulah benih kesombongan yang akan mencabut nikmat, sebagaimana kebun lelaki itu dihancurkan Allah dalam sekejap.

c. Amal: Syukur Operasional

Syukur bukan “Alhamdulillah” yang ringan di lisan, tetapi orientasi hidup. Ia berarti: menjaga nikmat dengan amal kebaikan, menggunakannya untuk orang lain, menolak takabbur, dan menyandarkan segalanya kepada Allah.

Syukur operasional adalah gabungan Masya Allah, kerja nyata dan tawadhu

Dalam kajian al-Fathu Nawa, Dr. HALO-N memberikan tiga sudut pandang mendalam:

a. Dimensi Spiritual

Ucapan ini memutus sumber penyakit hati paling berbahaya: mengira diri pemilik nikmat. Tauhid ini mengembalikan rasa “fakir” kepada Allah—sebuah kondisi ruhani yang justru memancarkan kekuatan.

b. Dimensi Psikologis

Ketika hati berkata “lā quwwata illā billāh”, beban hidup menjadi lebih ringan. Ia tidak tunduk pada tekanan penampilan atau capaian. Fokusnya hanya pada keridhaan Allah.

c. Dimensi Dakwah

Keberhasilan dakwah bukan produktivitas manusia, tetapi pertolongan Allah. Aktivis dakwah yang mengucapkan dua kalimat ini tidak akan terjangkit “ghurur dakwah”: merasa dirinya penentu kemenangan.

Jalan Pulang ke Kesadaran Tauhid

QS Al-Kahf:39 bukan sekadar adab lisan, tetapi terapi batin. Ia mengajarkan bahwa:

Syukur adalah cara memandang realitas, bukan sekadar ucapan.

Tawadhu’ adalah kesadaran ontologis bahwa manusia hanyalah alat.

Kekuatan tidak lahir dari kemampuan, tetapi dari penyandaran.

Nikmat hanya aman ketika dikembalikan kepada Allah.

Dan yang paling penting:
Barang siapa masuk ke dalam nikmat dengan kesombongan, nikmat itu berubah menjadi fitnah.
Barang siapa masuk keo dalam nikmat dengan Masya Allah, Laa Quwwata Illaa Billah, nikmat itu berubah menjadi peneguh iman.

Inilah jalan pulang bagi hati-hati yang ingin selamat dari ilusi dunia dan hidup dalam cahaya tauhid yang menentramkan.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img