KABARLAH.COM – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
KETIKA AKAL BERHADAPAN DENGAN KEAGUNGAN TUHAN
Manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan luar biasa untuk memahami alam semesta. Melalui akal dan ilmu pengetahuan, manusia mampu meneliti struktur kehidupan, menjelajahi ruang angkasa, mengungkap keteraturan alam, serta mengembangkan teknologi yang mengubah wajah peradaban.
Namun, di tengah kemajuan tersebut, terdapat pertanyaan fundamental yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengamatan empiris: siapakah Tuhan yang menciptakan seluruh keberadaan, dan sampai sejauh manakah manusia mampu mengenal-Nya?
Pertanyaan ini mempertemukan filsafat, teologi, dan spiritualitas dalam satu medan perenungan yang mendalam.
Akal manusia mampu memahami sebagian tanda kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, tetapi tidak mampu meliputi hakikat Zat Allah yang Mahasempurna. Manusia mengenal kehidupan melalui pengalaman hidupnya, memahami pendengaran melalui kemampuan mendengar, dan mengetahui kekuasaan melalui pengalaman tentang kemampuan serta keterbatasan.
Akan tetapi, ketika sifat-sifat tersebut dinisbatkan kepada Allah, manusia harus menyadari bahwa kesempurnaan Ilahi tidak dapat diukur menggunakan pengalaman makhluk.
Allah SWT berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syūrā: 11).
Ayat ini menghadirkan prinsip agung dalam teologi Islam: Allah mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, tetapi tidak menyerupai sesuatu pun dari ciptaan-Nya.
Di sinilah akal menemukan kedudukannya. Ia bukan untuk membayangkan hakikat Tuhan, melainkan untuk memahami petunjuk wahyu, merenungkan tanda-tanda penciptaan, dan mengantarkan manusia kepada kesadaran penghambaan.
TAUHID: KESEMPURNAAN ALLAH DAN KETERBATASAN MANUSIA
Firman Allah, Laisa kamitslihi syai’un, merupakan pernyataan fundamental tentang keunikan dan kemutlakan ketuhanan.
Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Allah, baik dalam keilahian, kekuasaan, pengetahuan, maupun sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
Secara filosofis, perbedaan antara Allah dan makhluk merupakan perbedaan mendasar antara Pencipta yang tidak bergantung kepada apa pun dan ciptaan yang seluruh keberadaannya bergantung kepada-Nya.
Manusia membutuhkan ruang untuk hidup, waktu untuk bertindak, pengetahuan untuk memahami, dan berbagai sebab untuk mempertahankan kehidupannya.
Adapun Allah tidak membutuhkan seluruh ketergantungan tersebut.
Allah berfirman:
اللَّهُ الصَّمَدُ
“Allah tempat bergantung segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlāṣ: 2).
Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh makhluk memiliki kebutuhan, sementara Allah Mahakaya dan tidak bergantung kepada siapa pun.
Karena itu, kesempurnaan Allah tidak dapat dipahami melalui perbandingan yang menyetarakan-Nya dengan makhluk.
Allah Mahahidup, tetapi kehidupan-Nya tidak didahului ketiadaan dan tidak berakhir dengan kematian.
Allah Maha Mengetahui, tetapi ilmu-Nya tidak diperoleh melalui pembelajaran.
Allah Mahakuasa, tetapi kekuasaan-Nya tidak bergantung kepada perangkat, kekuatan fisik, ataupun bantuan makhluk.
Kesamaan penggunaan istilah tidak mengharuskan kesamaan hakikat.
Inilah dasar memahami tauhid Asma’ wa Shifat, yakni menetapkan nama dan sifat Allah berdasarkan wahyu sekaligus menyucikan-Nya dari seluruh keserupaan.
ITSBAT DAN TANZIH: KESEIMBANGAN DALAM MENGENAL ALLAH
Dalam memahami sifat-sifat Allah terdapat dua prinsip yang saling melengkapi: itsbat dan tanzih.
Itsbat berarti menetapkan nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan yang Allah tetapkan melalui wahyu.
Tanzih berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan, keterbatasan, dan keserupaan dengan makhluk.
Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Menetapkan sifat tanpa menjaga penyucian dapat mengantarkan manusia kepada penyerupaan Tuhan dengan makhluk. Sebaliknya, penyucian yang dipahami sebagai penolakan terhadap seluruh sifat dapat mengosongkan makna pengenalan kepada Allah.
Al-Qur’an memberikan keseimbangan yang sangat jelas.
Pada satu sisi dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Pada sisi lain ditegaskan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Dengan demikian, Allah dikenal melalui sifat-sifat yang diwahyukan-Nya, tetapi hakikat dan kaifiyah sifat-Nya tidak dapat diliputi manusia.
Allah berfirman:
وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
“Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya.” (QS. Ṭāhā: 110).
Ayat ini bukan penolakan terhadap penggunaan akal, melainkan penegasan tentang batas pengetahuan manusia.
Dalam epistemologi Islam, keterbatasan pengetahuan tidak berarti ketiadaan pengetahuan. Manusia dapat mengetahui sesuatu secara benar tanpa mengetahui seluruh hakikatnya.
Demikian pula pengenalan kepada Allah. Wahyu memberikan pengetahuan yang benar tentang nama dan sifat-Nya, tetapi manusia tidak mempunyai kemampuan untuk meliputi keseluruhan hakikat ketuhanan.
MENJAGA KEMURNIAN PEMAHAMAN TERHADAP WAHYU
Pemahaman sifat-sifat Allah harus dibangun di atas kejujuran ilmiah dan ketundukan kepada petunjuk wahyu.
Terdapat beberapa penyimpangan yang perlu dihindari.
Tahrif berarti mengubah lafaz atau memalingkan makna wahyu tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ta‘thil berarti meniadakan nama atau sifat kesempurnaan yang telah ditetapkan melalui dalil.
Takyif berarti menentukan bagaimana hakikat atau kaifiyah sifat Allah tanpa pengetahuan yang diberikan wahyu.
Sedangkan tamtsil berarti menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk.
Keempat istilah tersebut memperlihatkan pentingnya keseimbangan antara akal, bahasa, dan wahyu.
Dalam pendekatan penetapan sifat, istilah yang terdapat dalam nash diterima sebagaimana petunjuknya, tanpa mengarang bentuk atau mekanisme yang menyerupai makhluk.
Namun, memahami wahyu juga memerlukan ketelitian kebahasaan. Tidak setiap penafsiran yang berbeda dari makna pertama suatu lafaz otomatis merupakan penyelewengan. Takwil yang dibangun berdasarkan dalil dan kaidah ilmiah memiliki pembahasan tersendiri dalam khazanah keilmuan Islam.
Karena itu, perbedaan pendekatan harus dihadapi dengan ketelitian, bukan dengan sikap saling merendahkan.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.” (QS. Al-Isrā’: 36).
Ayat ini mengajarkan bahwa berbicara tentang Allah merupakan amanah ilmu yang menuntut kehati-hatian.
Semakin tinggi suatu persoalan, semakin besar tanggung jawab manusia untuk tidak mengklaim pengetahuan yang melampaui batas kemampuannya.
ASMAULHUSNA: NAMA-NAMA ALLAH SEBAGAI PINTU MAKRIFATULLAH
Allah berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allah memiliki nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (QS. Al-A‘rāf: 180).
Asmaulhusna bukan sekadar kumpulan nama yang dihafalkan dan diucapkan dalam zikir. Nama-nama tersebut mengandung petunjuk mengenai kesempurnaan Allah.
Al-‘Alīm menunjukkan kesempurnaan ilmu-Nya.
Al-Qadīr menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya.
Ar-Raḥmān menunjukkan keluasan rahmat-Nya.
Al-Ḥakīm menunjukkan kesempurnaan hikmah-Nya.
Dalam ilmu dalalah, hubungan antara lafaz dan makna dapat dipahami melalui tiga bentuk.
Pertama, dalalah muthabaqah, yaitu petunjuk suatu nama terhadap keseluruhan maknanya.
Kedua, dalalah tadhammun, yaitu petunjuk nama terhadap sebagian maknanya.
Ketiga, dalalah iltizam, yaitu petunjuk nama terhadap makna lain yang menjadi konsekuensi dari makna asalnya.
Contohnya nama Al-Khāliq, Yang Maha Pencipta.
Nama tersebut menunjukkan Allah sebagai Zat yang memiliki sifat menciptakan. Sifat penciptaan juga menunjukkan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan-Nya sebagai konsekuensi yang tidak terpisahkan.
Karena itu, memahami Asmaulhusna bukan semata-mata kegiatan intelektual.
Pengenalan terhadap Allah Yang Maha Mengetahui seharusnya melahirkan kejujuran.
Pengenalan terhadap Allah Yang Maha Melihat menumbuhkan muraqabah.
Pengenalan terhadap Allah Yang Maha Pengampun melahirkan harapan dan kesungguhan bertobat.
Nama-nama Allah bukan hanya untuk memenuhi ingatan, melainkan menjadi petunjuk yang membimbing qalbu menuju penghambaan.
ILHAD: KETIKA MAKNA KETUHANAN DISIMPANGKAN
Dalam pembahasan Asmaulhusna, ilhad berarti penyimpangan dari ketentuan yang benar mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Penyimpangan dapat terjadi ketika manusia menetapkan nama ketuhanan tanpa landasan wahyu, mengingkari nama yang telah ditetapkan Allah, mengosongkan makna sifat yang terkandung dalam nama-Nya, ataupun menyerupakan kesempurnaan Allah dengan makhluk.
Ilhad juga dapat terjadi ketika kedudukan ketuhanan diberikan kepada sesuatu selain Allah.
Namun, penyimpangan dalam pengertian tersebut mempunyai tingkatan yang berbeda dan tidak boleh dijadikan dasar untuk sembarangan menjatuhkan vonis terhadap keimanan seseorang.
Allah juga memperingatkan tentang penyimpangan terhadap ayat-ayat-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpang terhadap ayat-ayat Kami tidak tersembunyi dari Kami.” (QS. Fuṣṣilat: 40).
Peringatan ini mengandung dimensi intelektual sekaligus moral.
Manusia harus menjaga ketepatan pemahaman terhadap wahyu dan tidak memperlakukan agama sebagai sarana membenarkan keinginan pribadinya.
Ilmu yang tidak disertai amanah dapat berubah menjadi alat pembenaran, sedangkan akal yang kehilangan kerendahan hati dapat terjerumus ke dalam kesombongan.
Karena itu, kemurnian tauhid membutuhkan kejujuran berpikir, ketulusan qalbu, dan kesediaan tunduk kepada kebenaran.
AYAT KAUNIYAH DAN SYAR‘IYAH: MEMBACA ALAM DAN WAHYU
Al-Qur’an mengajak manusia membaca dua jenis tanda kebesaran Allah: ayat kauniyah dan ayat syar‘iyah.
Ayat kauniyah merupakan tanda-tanda Allah yang terbentang dalam penciptaan alam semesta.
Ayat syar‘iyah merupakan petunjuk Allah yang disampaikan melalui wahyu.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Āli ‘Imrān: 190).
Alam merupakan ruang pengamatan, penelitian, dan perenungan.
Keteraturan benda langit, keberagaman kehidupan, pergantian musim, serta berbagai hukum alam menunjukkan keluasan ciptaan yang dapat dipelajari manusia.
Penjelasan ilmiah mengenai proses alam tidak harus dipertentangkan dengan keimanan kepada Allah sebagai Pencipta.
Ilmu pengetahuan mempelajari bagaimana berbagai proses berlangsung, sedangkan wahyu membimbing manusia merenungkan makna penciptaan dan tanggung jawab kehidupannya.
Penyimpangan terhadap ayat kauniyah terjadi ketika sesuatu selain Allah diyakini mempunyai kekuasaan penciptaan yang mandiri, menjadi sekutu dalam ketuhanan, atau menjadi pembantu yang dibutuhkan Allah.
Adapun penyimpangan terhadap ayat syar‘iyah dapat berupa pendustaan terhadap wahyu, penyelewengan makna tanpa dasar yang benar, serta pelanggaran terhadap perintah-Nya. Masing-masing harus dipahami sesuai sifat dan tingkatannya.
Dalam pembahasan tanda-tanda kenabian, istilah ayat juga memiliki kedalaman yang lebih luas daripada sekadar kejadian yang tidak mampu ditandingi manusia.
Sebuah tanda kenabian bukan hanya menghadirkan keajaiban, tetapi menunjukkan kebenaran risalah.
Dengan demikian, alam dan wahyu memiliki hubungan yang saling melengkapi.
Alam mengundang manusia untuk berpikir, sedangkan wahyu membimbing manusia agar pemikirannya mengantarkan kepada kebenaran dan penghambaan.
ALLAH TIDAK DAPAT DIUKUR DENGAN PERBANDINGAN MAKHLUK
Akal manusia sering menggunakan analogi untuk memahami sesuatu yang belum diketahui.
Namun, ketika berbicara mengenai sifat Allah, perbandingan tersebut mempunyai batas.
Dalam pembahasan logika teologis dikenal qiyas syumul, qiyas tamtsil, dan qiyas aula.
Qiyas syumul tidak dapat digunakan untuk menempatkan Allah dan makhluk dalam kategori kesetaraan yang menghapus perbedaan antara Pencipta dan ciptaan.
Qiyas tamtsil tidak dibenarkan apabila menghasilkan kesimpulan bahwa hakikat sifat Allah sama dengan sifat makhluk.
Adapun qiyas aula merupakan penalaran bahwa Allah lebih berhak memiliki kesempurnaan yang mutlak daripada kesempurnaan terbatas yang terdapat pada makhluk, selama sifat tersebut benar-benar merupakan kesempurnaan yang layak bagi-Nya.
Allah berfirman:
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ
“Dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi.” (QS. An-Naḥl: 60).
Manusia memiliki ilmu, tetapi ilmunya terbatas.
Allah memiliki ilmu yang sempurna.
Manusia mempunyai kemampuan, tetapi kemampuannya bergantung kepada berbagai sebab.
Allah mempunyai kekuasaan yang sempurna.
Meskipun demikian, penalaran ini tidak memberikan kewenangan kepada manusia untuk menetapkan nama-nama Allah secara bebas tanpa dasar wahyu.
Akal berfungsi membantu memahami kesempurnaan yang layak bagi-Nya, bukan menciptakan hakikat ketuhanan berdasarkan imajinasi.
SUBHANALLAH: PENYUCIAN ALLAH DAN KERENDAHAN HATI MANUSIA
Ungkapan:
سُبْحَانَ اللَّهِ
Subḥānallāh.
mengandung makna penyucian Allah dari seluruh kekurangan dan sesuatu yang tidak layak bagi keagungan-Nya.
Allah Mahasuci dari kezaliman, kejahilan, kelemahan, dan ketergantungan.
Namun, penyucian tidak berarti meniadakan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
Tasbih menyucikan Allah dari kekurangan, sedangkan tahmid memuji-Nya atas seluruh kesempurnaan.
Karena itu, ucapan:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
mengandung pengakuan terhadap kesucian dan kesempurnaan Allah secara bersamaan.
Penghayatan tersebut seharusnya membebaskan manusia dari kesombongan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāṭir: 15).
Manusia membutuhkan Allah bukan hanya ketika menghadapi kesulitan, melainkan pada setiap keadaan.
Ketika sehat, ia membutuhkan pemeliharaan-Nya. Ketika memiliki ilmu, ia membutuhkan petunjuk-Nya. Ketika berkuasa, ia membutuhkan hikmah-Nya. Bahkan ketika beribadah, ia membutuhkan taufik dan rahmat-Nya.
Kesadaran tentang ketergantungan tersebut merupakan pintu penting menuju kerendahan hati dan kemurnian penghambaan.
SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT, DAN MAKRIFATULLAH
Penghayatan tauhid dapat direnungkan melalui empat dimensi pendidikan ruhani: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifatullah.
Keempatnya bukan sumber akidah yang terpisah, melainkan kerangka pembinaan penghambaan yang tetap harus berada dalam bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah.
Pada dimensi syariat, seorang hamba mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah berdasarkan wahyu, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya.
Pada dimensi tarekat, ilmu tersebut diterjemahkan menjadi latihan penyucian jiwa melalui zikir, muhasabah, kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian hawa nafsu.
Pada dimensi hakikat, manusia semakin menyadari bahwa seluruh kehidupan, pengetahuan, kemampuan, dan rezekinya merupakan karunia Allah. Kesadaran ini tidak menghapus tanggung jawab manusia, tetapi justru memperkuat kewajibannya untuk berikhtiar dan bersyukur.
Adapun makrifatullah merupakan pengenalan kepada Allah yang berlandaskan wahyu dan melahirkan pengagungan, kecintaan, serta ketundukan yang semakin mendalam.
Makrifatullah bukanlah kemampuan membayangkan Zat Allah atau menganggap makhluk menyatu dengan Penciptanya.
Sebaliknya, semakin seseorang mengenal keagungan Allah, semakin ia menyadari keterbatasan pengetahuannya dan semakin bersungguh-sungguh menyempurnakan penghambaan.
Ilmu melahirkan pengenalan. Pengenalan menumbuhkan mahabbah. Mahabbah mendorong ketaatan. Ketaatan yang disertai keikhlasan mengantarkan manusia menuju ihsan.
DARI TAUHID MENUJU MURAQABAH, MAHABBAH, DAN IHSAN
Pengenalan terhadap sifat-sifat Allah seharusnya menghasilkan perubahan dalam kehidupan manusia.
Iman kepada As-Samī‘ melahirkan kesungguhan menjaga lisan.
Iman kepada Al-Baṣīr menumbuhkan pengawasan diri.
Iman kepada Al-‘Alīm melahirkan kerendahan hati.
Iman kepada Al-Ḥakīm menguatkan kesabaran dalam menghadapi ketetapan kehidupan.
Iman kepada Ar-Raḥmān menumbuhkan harapan, kasih sayang, dan kepedulian.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisā’: 1).
Kesadaran bahwa Allah mengetahui seluruh keadaan lahir dan batin merupakan dasar muraqabah.
Muraqabah menjadikan manusia berusaha jujur meskipun tidak ada yang mengawasinya, menjaga amanah meskipun tidak memperoleh pujian, serta menjauhi kezaliman sekalipun memiliki kesempatan melakukannya.
Sementara itu, mahabbah menghubungkan pengenalan kepada Allah dengan kecintaan dan ketaatan.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).
Kecintaan kepada Allah bukan sekadar pengalaman emosional, melainkan kekuatan ruhani yang membimbing manusia untuk menjalankan perintah-Nya.
Ketika ilmu, keimanan, kecintaan, dan amal bertemu dalam keikhlasan, lahirlah penghambaan yang berorientasi kepada ihsan.
PENUTUP: KETIKA KESEMPURNAAN ALLAH MENYADARKAN KETERBATASAN DIRI
Pada akhirnya, pembahasan mengenai sifat-sifat Allah bukan semata-mata persoalan terminologi teologis atau argumentasi filosofis.
Ia merupakan perjalanan intelektual dan ruhani yang mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap keagungan Allah sekaligus kesadaran tentang keterbatasan dirinya.
Semakin luas pengetahuan manusia, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya.
Semakin mendalam pengenalannya terhadap kesempurnaan Allah, semakin kuat kesadarannya bahwa seluruh kehidupan bergantung kepada-Nya.
Kesempurnaan mengenal Allah tidak diukur dari rumitnya perdebatan yang dapat dimenangkan, tetapi dari keimanan yang semakin kokoh, ibadah yang semakin ikhlas, dan akhlak yang semakin mulia.
Apakah pengenalan terhadap Allah menjadikan manusia lebih jujur?
Apakah keyakinan bahwa Allah Maha Melihat menjadikannya lebih amanah?
Apakah pemahaman tentang rahmat Allah menjadikannya lebih penyayang?
Apakah kesadaran tentang kesempurnaan ilmu Allah menjadikannya lebih rendah hati?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mempertemukan teologi dengan kehidupan nyata.
Tauhid yang hidup bukan hanya keyakinan yang tersimpan dalam pikiran, melainkan cahaya petunjuk yang menyucikan qalbu, membimbing akal, memperbaiki amal, dan memuliakan akhlak.
Allah berfirman:
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An‘ām: 103).
Manusia tidak mampu meliputi hakikat ketuhanan, tetapi dapat mengenal Allah melalui petunjuk yang diwahyukan-Nya.
Karena itu, perjalanan makrifatullah bukanlah perjalanan untuk menguasai rahasia Zat Allah, melainkan perjalanan menuju kesempurnaan penghambaan.
Semakin manusia mengenal Allah, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya. Semakin ia menyadari keterbatasannya, semakin besar ketundukannya. Dan semakin mendalam ketundukannya, semakin kuat kesungguhannya untuk hidup dalam keikhlasan, mahabbah, muraqabah, dan ihsan.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang benar, qalbu yang bersih, iman yang kokoh, serta kemampuan untuk mengenal dan mengagungkan-Nya sesuai petunjuk-Nya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Āli ‘Imrān: 8).
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



