KABARLAH.COM – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Menemukan arah, membentuk diri, dan menyiapkan generasi
Ada satu masa dalam kehidupan manusia ketika tubuh sedang kuat, pikiran sedang berkembang, cita-cita masih tinggi, keberanian sedang tumbuh, dan masa depan tampak seperti ruang luas yang belum selesai ditulis.
Itulah masa muda.
Namun masa muda bukan sekadar angka usia. Ia adalah fase pembentukan. Pada masa inilah seseorang perlahan menentukan siapa dirinya, apa yang dipercayainya, siapa yang diteladaninya, apa yang diperjuangkannya, dan ke mana seluruh energinya diarahkan.
Karena itu persoalan terbesar pemuda bukan hanya:
«“Apa yang ingin engkau capai?”»
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
«“Menjadi manusia seperti apa engkau ingin menjalani hidup ini?”»
Sebab seseorang dapat mencapai banyak hal, tetapi kehilangan dirinya sendiri.
Ia dapat berpendidikan tinggi, tetapi tidak memahami tujuan hidup.
Ia dapat mempunyai kekayaan, tetapi tidak memiliki ketenangan.
Ia dapat terkenal, tetapi tidak mengenal isi hatinya.
Ia dapat mempunyai banyak pengikut, tetapi tidak mengetahui ke mana dirinya sedang berjalan.
Di sinilah Al-Qur’an hadir bukan hanya sebagai kitab hukum, tetapi sebagai kitab petunjuk eksistensial.
Ia mengajarkan manusia:
siapa dirinya,
dari mana ia berasal,
untuk apa ia hidup,
kepada siapa ia akan kembali,
dan untuk apa seluruh kekuatan hidupnya digunakan.
Maka tadabbur tentang pemuda bukan sekadar berbicara tentang masa depan generasi.
Ia berbicara tentang arah kehidupan manusia itu sendiri.
Masa Muda adalah Amanah
Allah mengabadikan kisah para pemuda Ashḥābul Kahfi:
«إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى»
“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” QS. Al-Kahfi: 13
Kata yang digunakan adalah:
«فِتْيَةٌ»
para pemuda.
Ini bukan keterangan usia yang tidak bermakna.
Ada isyarat penting di dalamnya.
Masa muda ternyata dapat menjadi masa keteguhan iman.
Masa muda dapat menjadi masa kejernihan prinsip.
Masa muda dapat menjadi masa keberanian moral.
Muda tidak identik dengan kebingungan.
Muda tidak harus identik dengan kesenangan tanpa batas.
Muda tidak harus larut dalam arus.
Justru pada masa mudalah energi besar terkumpul.
Ada kekuatan fisik.
Ada kecepatan belajar.
Ada keberanian mencoba.
Ada imajinasi.
Ada idealisme.
Ada harapan.
Ada daya untuk memulai sesuatu yang baru.
Tetapi setiap energi mempunyai dua kemungkinan.
Api dapat menerangi, tetapi dapat pula membakar.
Air dapat menghidupkan, tetapi juga dapat menenggelamkan.
Demikian pula masa muda.
Keberanian dapat menjadi keberanian membela kebenaran atau berubah menjadi kenekatan.
Kecerdasan dapat membangun peradaban atau menjadi alat manipulasi.
Teknologi dapat menjadi sarana ilmu dan pelayanan atau berubah menjadi pintu kelalaian.
Kreativitas dapat menghasilkan kemaslahatan atau digunakan untuk mengejar hawa nafsu.
Maka persoalannya bukan:
«“Apakah pemuda mempunyai energi?”»
Mereka pasti memilikinya.
Persoalannya adalah:
«“Siapa yang memberi arah kepada energi itu?”»
Inilah makna tarbiyah.
Tarbiyah bukan mematikan semangat.
Tarbiyah adalah memberi kiblat kepada semangat.
Membangun Manusia, Bukan Hanya Mengisi Kepala
Salah satu kekeliruan besar pendidikan modern adalah menganggap manusia cukup dibentuk dengan informasi.
Padahal manusia bukan hanya akal.
Di dalam dirinya ada hati.
Ada kehendak.
Ada nafsu.
Ada emosi.
Ada kebiasaan.
Ada rasa takut.
Ada keinginan untuk diakui.
Ada kecenderungan mencari kenyamanan.
Karena itu orang yang mengetahui kebenaran belum tentu sanggup hidup bersama kebenaran.
Orang dapat memahami agama tetapi kalah oleh hawa nafsu.
Orang dapat mempunyai ilmu tetapi tidak mempunyai keikhlasan.
Orang dapat mempunyai semangat tetapi miskin kebijaksanaan.
Orang dapat mempunyai niat yang baik tetapi tidak mempunyai disiplin.
Maka pendidikan yang utuh harus menyentuh seluruh manusia.
Akalnya tercerahkan.
Hatinya dihidupkan.
Niatnya dibersihkan.
Akhlaknya dibentuk.
Nafsunya dikendalikan.
Kehendaknya dikuatkan.
Dan tangannya dibiasakan bekerja.
Inilah perbedaan antara mengetahui kebaikan dan menjadi manusia baik.
Ilmu yang tidak melahirkan akhlak dapat berubah menjadi kesombongan.
Semangat tanpa ilmu dapat berubah menjadi kecerobohan.
Kekuatan tanpa iman dapat berubah menjadi kezaliman.
Tetapi iman yang hidup akan menyatukan seluruh unsur manusia.
Akal memperoleh arah.
Hati memperoleh ketenangan.
Kehendak memperoleh tujuan.
Dan kehidupan memperoleh makna.
Allah adalah Tujuan
Manusia selalu hidup dengan tujuan.
Belajar untuk mendapatkan ilmu.
Bekerja untuk mendapatkan penghasilan.
Menikah untuk membangun keluarga.
Berusaha untuk memperoleh kedudukan.
Mengembangkan diri untuk mencapai keberhasilan.
Semua itu dapat menjadi baik.
Tetapi di balik semua tujuan terdapat satu pertanyaan yang lebih besar:
«Untuk siapa semua ini dilakukan?»
Allah berfirman:
«قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ»
“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” QS. Al-An‘am: 162
Ayat ini sangat mendalam.
Allah tidak hanya menyebut:
«صَلَاتِي»
salatku.
Tetapi juga:
«مَحْيَايَ وَمَمَاتِي»
hidupku dan matiku.
Artinya tauhid bukan sekadar doktrin tentang siapa Tuhan.
Tauhid adalah pusat orientasi kehidupan.
Ia masuk ke ruang pendidikan.
Masuk ke dunia pekerjaan.
Masuk ke keluarga.
Masuk ke bisnis.
Masuk ke ruang publik.
Masuk ke kepemimpinan.
Masuk ke media.
Masuk ke setiap keputusan.
Ketika Allah menjadi tujuan, dunia tidak perlu ditinggalkan.
Dunia justru diletakkan pada tempatnya.
Harta menjadi sarana.
Jabatan menjadi sarana.
Ilmu menjadi sarana.
Kekuasaan menjadi sarana.
Popularitas menjadi sarana.
Teknologi menjadi sarana.
Masalah muncul ketika sarana berubah menjadi tujuan.
Harta yang semula digunakan akhirnya menguasai manusia.
Jabatan yang semula menjadi amanah berubah menjadi sumber harga diri.
Popularitas yang semula menjadi sarana kebaikan berubah menjadi kebutuhan akan pujian.
Di sinilah tauhid membebaskan.
Tauhid adalah kemerdekaan batin.
Orang yang Allah menjadi pusat hidupnya tidak mudah dihancurkan oleh penilaian manusia.
Ia senang ketika dipuji, tetapi tidak hidup dari pujian.
Ia sedih ketika dicela, tetapi tidak runtuh karena celaan.
Ia memiliki jabatan, tetapi tidak merasa mulia karena kursi.
Ia kehilangan kedudukan, tetapi tidak kehilangan makna dirinya.
Ia mempunyai harta, tetapi hatinya tidak dimiliki oleh harta.
Inilah makna:
«الله غايتنا»
Allah adalah tujuan.
Rasulullah ﷺ adalah Teladan
Tujuan yang benar memerlukan jalan yang benar.
Setelah manusia mengetahui bahwa hidupnya menuju Allah, ia bertanya:
«Bagaimana kehidupan itu dijalani?»
Al-Qur’an menjawab:
«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ»
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” QS. Al-Ahzab: 21
Keteladanan Rasulullah ﷺ adalah keteladanan yang utuh.
Beliau teladan dalam ibadah.
Teladan dalam keluarga.
Teladan dalam persahabatan.
Teladan dalam kepemimpinan.
Teladan ketika kuat.
Teladan ketika lemah.
Teladan ketika menang.
Teladan ketika diuji.
Teladan ketika disukai.
Teladan ketika disakiti.
Sunnah karena itu tidak boleh dipersempit menjadi sekadar penampilan luar.
Sunnah juga adalah kejujuran.
Amanah.
Keadilan.
Kesabaran.
Musyawarah.
Pengendalian diri.
Kasih sayang.
Keberanian.
Dan kemampuan memaafkan.
Generasi hari ini hidup di tengah banjir figur.
Setiap hari layar menghadirkan ribuan wajah.
Selebritas.
Atlet.
Pengusaha.
Politikus.
Influencer.
Figur hiburan.
Sebagian dapat menjadi inspirasi dalam bidang tertentu.
Tetapi seorang mukmin harus mempunyai hierarki keteladanan.
Rasulullah ﷺ bukan sekadar tokoh sejarah yang dikagumi.
Beliau adalah ukuran moral.
Karena itu pertanyaan penting bukan:
«“Seberapa banyak kita mengetahui kisah Rasul?”»
Tetapi:
«“Seberapa banyak akhlak Rasul hadir dalam diri kita?”»
Apakah kejujuran hadir dalam bisnis?
Apakah amanah hadir dalam jabatan?
Apakah kelembutan hadir dalam keluarga?
Apakah kesabaran hadir ketika menghadapi tekanan?
Apakah keadilan tetap hadir ketika berhadapan dengan orang yang tidak disukai?
Di situlah sunnah menjadi kehidupan.
Al-Qur’an adalah Pedoman
Allah berfirman:
«إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ»
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” QS. Al-Isra’: 9
Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca.
Ia adalah kitab yang membentuk cara pandang.
Ia mengajarkan manusia bagaimana melihat Allah.
Bagaimana melihat dirinya.
Bagaimana melihat dunia.
Bagaimana memandang harta.
Bagaimana memandang kekuasaan.
Bagaimana memandang kesuksesan.
Bagaimana memandang kegagalan.
Bagaimana memandang kematian.
Karena itu hubungan dengan Al-Qur’an semestinya bergerak:
membaca → memahami → mentadabburi → meyakini → mengamalkan → menjadi akhlak.
Al-Qur’an harus berpindah dari mushaf menuju pikiran.
Dari pikiran menuju hati.
Dari hati menuju keputusan.
Dari keputusan menuju perilaku.
Dari perilaku menuju karakter.
Inilah kehidupan Qur’ani.
Dunia sering mengukur kemuliaan dengan kekayaan.
Al-Qur’an berkata:
«إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ»
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” QS. Al-Hujurat: 13
Dunia mengukur keberhasilan dengan popularitas.
Al-Qur’an mengajarkan keikhlasan.
Dunia mengagungkan kekuasaan.
Al-Qur’an mengingatkan amanah.
Maka orang yang dibentuk Al-Qur’an mempunyai neraca yang berbeda.
Ia bertanya:
Apakah ini benar?
Apakah ini halal?
Apakah ini adil?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah Allah meridainya?
Apakah kelak dapat dipertanggungjawabkan?
Hidup Memerlukan Kesungguhan
Tidak ada perubahan besar yang lahir dari kemalasan.
Tidak ada ilmu tanpa disiplin.
Tidak ada akhlak tanpa latihan.
Tidak ada peradaban tanpa pengorbanan.
Karena itu kehidupan seorang mukmin selalu mengandung mujāhadah.
Ia berjuang melawan kebodohan dengan belajar.
Melawan kemiskinan dengan pemberdayaan.
Melawan kerusakan dengan pendidikan.
Melawan hawa nafsu dengan pengendalian diri.
Melawan ketidakadilan dengan usaha menegakkan keadilan melalui jalan yang benar.
Ia berusaha menghadirkan kebaikan semaksimal kemampuan yang dimiliki.
Inilah semangat:
Jihad sebagai kesungguhan hidup dalam jalan Allah.
Ia tidak dapat direduksi menjadi kekerasan individual.
Sebaliknya, ia adalah pengerahan kemampuan yang terikat oleh syariat, keadilan, etika dan larangan melakukan kezaliman.
Allah berfirman:
«وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ»
“Janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
QS. Al-Baqarah: 190
Bagi generasi hari ini, medan kesungguhan sangat luas.
Menguasai ilmu.
Mendidik generasi.
Menjaga keluarga.
Membangun ekonomi.
Mengembangkan teknologi.
Melayani masyarakat.
Menjaga integritas.
Membela yang lemah.
Mengendalikan diri dari maksiat.
Semua itu membutuhkan pengorbanan.
Pesannya sederhana:
«Saya tidak akan menjalani kehidupan ini dengan kemalasan.»
Kesalehan yang Mengalir ke Masyarakat
Islam tidak berhenti pada kesalehan individual.
Shalat memperbaiki diri.
Puasa mendidik jiwa.
Zikir melembutkan hati.
Al-Qur’an membentuk cara pandang.
Tetapi semua itu harus mengalir keluar menjadi manfaat.
Kesalehan mempunyai dua arah:
«صَلَاحُ النَّفْسِ وَإِصْلَاحُ الْمُجْتَمَعِ»
memperbaiki diri dan ikut memperbaiki masyarakat.
Seorang mukmin tidak cukup bertanya:
«“Apakah saya sudah baik?”»
Ia juga harus bertanya:
«“Kebaikan apa yang hadir bagi orang lain karena keberadaan saya?”»
Kita membutuhkan ahli ibadah.
Tetapi juga membutuhkan guru yang jujur.
Dokter yang amanah.
Pengusaha yang adil.
Pemimpin yang takut kepada Allah.
Ilmuwan yang bermanfaat.
Pekerja yang profesional.
Warga yang peduli.
Kesalehan kepada Allah semestinya melahirkan kemanfaatan kepada manusia.
Tarbiyah Mendahului Perubahan
Banyak orang ingin mengubah keadaan.
Tetapi tidak semua bersedia mengubah dirinya.
Padahal perubahan sosial yang tidak ditopang manusia matang akan mudah menyimpang.
Sebelum memimpin orang lain, seseorang harus belajar memimpin dirinya.
Sebelum mengelola kekuasaan, ia harus mampu mengelola hawa nafsunya.
Sebelum menuntut keadilan dari orang lain, ia harus belajar berlaku adil.
Karena itu perubahan membutuhkan:
hati yang bersih,
akidah yang kokoh,
ilmu yang cukup,
akhlak yang kuat,
kejujuran,
kesabaran,
musyawarah,
dan kesiapan menerima kritik.
Tarbiyah bukan sekadar persiapan sebelum perjuangan.
«Tarbiyah adalah penjaga agar perjuangan tidak kehilangan ruh.»
Peradaban membutuhkan sistem yang baik.
Tetapi sistem yang baik memerlukan manusia yang baik.
Dan manusia yang baik lahir dari hati yang terus dididik.
Krisis Pemuda Sesungguhnya adalah Krisis Arah
Generasi hari ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda.
Informasi melimpah.
Hiburan tersedia setiap saat.
Popularitas dapat datang dalam hitungan jam.
Tetapi bersamaan dengan itu lahir tantangan baru:
kecanduan layar,
pornografi digital,
kecanduan permainan,
konsumerisme,
budaya viral,
krisis konsentrasi,
perbandingan sosial,
dan kebutuhan akan validasi.
Namun akar persoalannya tetap sama:
«Siapa yang menguasai hati?»
Karena siapa yang menguasai hati akan menentukan perhatian.
Perhatian menentukan kebiasaan.
Kebiasaan membentuk karakter.
Karakter menentukan arah hidup.
Maka salah satu jihad terbesar generasi hari ini adalah:
«merebut kembali perhatian mereka sendiri.»
Jangan sampai algoritma menentukan seluruh pikiran.
Jangan sampai sesuatu dianggap benar hanya karena viral.
Jangan sampai harga diri tergantung pada jumlah “suka”.
Jangan sampai masa muda yang sangat mahal habis dalam guliran layar yang tidak pernah selesai.
Akhiran: Agar Pemuda Sadar
Agar pemuda mengetahui, maknanya, bukan sekadar agar pemuda memiliki informasi.
Maknanya lebih dalam:
«agar pemuda sadar.»
Sadar siapa dirinya.
Sadar siapa Rabb-nya.
Sadar untuk apa ia hidup.
Sadar siapa teladannya.
Sadar apa pedomannya.
Sadar bahwa masa muda adalah amanah.
Sadar bahwa dunia tidak abadi.
Sadar bahwa kekuatan akan melemah.
Sadar bahwa seluruh hidup akhirnya akan kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ»
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra‘d: 11
Perubahan besar selalu mempunyai titik awal yang kecil.
Ia bermula dari hati.
Dari kesadaran.
Dari niat.
Dari pilihan.
Dari kebiasaan.
Lalu dari sana terbentuk karakter.
Dari karakter lahir generasi.
Dari generasi dibangun peradaban.
Maka seorang pemuda harus berani berkata kepada dirinya:
Aku tidak diciptakan tanpa tujuan.
Aku tidak diberi masa muda untuk disia-siakan.
Aku tidak diberi ilmu hanya untuk dibanggakan.
Aku tidak diberi kekuatan hanya untuk diriku sendiri.
Aku adalah hamba Allah.
Aku memikul amanah.
Aku sedang berjalan menuju-Nya.
Karena itu:
Allah adalah tujuan kami.»
Rasulullah ﷺ adalah teladan kami.»
Al-Qur’an adalah pedoman kami.»
Kesungguhan, mujahadah dan perjuangan dalam kebaikan adalah jalan kami.»
Di situlah masa muda menemukan kemuliaannya.
Bukan karena panjangnya usia.
Bukan karena banyaknya pengikut.
Bukan karena tingginya kedudukan.
Tetapi karena umur, ilmu, tenaga dan kesempatan itu berubah menjadi amal saleh sebelum perjalanan kembali kepada Allah tiba.
Pemuda bukan hanya pewaris masa depan.
Pemuda adalah amanah hari ini, pembentuk masa depan, dan manusia yang kelak akan ditanya: untuk apa masa mudanya digunakan.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



