BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Rezeki yang Dijamin, Keselamatan yang Harus Diperjuangkan

Tadabbur: Rezeki yang Dijamin, Keselamatan yang Harus Diperjuangkan

spot_img

KABARLAH.COM – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada sebuah kegelisahan yang hampir selalu menyertai kehidupan manusia: takut kekurangan. Takut penghasilan berkurang, takut usaha gagal, takut kehilangan pekerjaan, takut masa depan keluarga tidak terjamin, takut tua tanpa kecukupan. Ketakutan itu manusiawi. Namun Al-Qur’an mengajak manusia melihat persoalan hidup dari sudut yang lebih tinggi: jangan sampai kita begitu sibuk mencemaskan sesuatu yang telah berada dalam jaminan Allah, sementara justru lalai terhadap sesuatu yang harus kita perjuangkan sampai akhir hayat—keselamatan iman dan akhir kehidupan kita.

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” QS. Hūd: 6

Ayat ini bukan ajakan untuk pasif. Ia adalah pendidikan tauhid. Allah sedang mengoreksi pusat ketergantungan manusia. Kita diperintahkan bekerja, tetapi tidak diperintahkan mempertuhankan pekerjaan. Kita diperintahkan mencari rezeki, tetapi tidak diperintahkan menggantungkan hati kepada rezeki.

Karena itu, ketika Allah berbicara tentang rezeki, pada saat yang sama Dia memerintahkan manusia bergerak:

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

“Berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.” QS. Al-Mulk: 15

Perhatikan ungkapan Al-Qur’an: kita diperintahkan berjalan, tetapi makanan yang kita peroleh tetap disebut رِزْقِهِ — rezeki-Nya.

Inilah keseimbangan Islam: kaki bergerak di bumi, hati bergantung kepada Allah.

Rezeki dijamin, tetapi kekayaan tidak dijanjikan

Ketika Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki, itu tidak berarti setiap orang akan menjadi kaya. Rezeki tidak identik dengan kemewahan.

Allah berfirman:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” QS. Ar-Ra‘d: 26

Ada yang rezekinya dilapangkan melalui harta, ada melalui kesehatan, keluarga, ilmu, kesempatan, ketenangan jiwa, sahabat yang baik, atau kemampuan beribadah. Bahkan kemampuan hati untuk mengenal Allah merupakan salah satu rezeki terbesar yang sering tidak dihitung manusia.

Masalahnya, manusia kerap mengukur rezeki hanya dengan angka.

Jika saldo bertambah, ia merasa Allah sedang memberinya rezeki. Jika pendapatan menurun, ia merasa rezekinya hilang.

Padahal boleh jadi hartanya berkurang, tetapi imannya bertambah. Boleh jadi sebuah keuntungan dunia tidak diperolehnya, tetapi Allah menyelamatkannya dari dosa yang lebih besar.

Di sinilah diperlukan kejernihan tauhid: Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi tidak pernah keluar dari hikmah-Nya dalam memberikan apa yang kita perlukan.

Ketika takut miskin mengalahkan takut kepada Allah

Al-Qur’an bahkan menunjukkan bahwa salah satu pintu godaan setan adalah rasa takut terhadap kemiskinan:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ

“Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan.” QS. Al-Baqarah: 268

Takut miskin dapat berubah menjadi penyakit ruhani ketika seseorang mulai meyakini bahwa tanpa pelanggaran tertentu ia tidak akan bisa bertahan.

Maka muncul kompromi-kompromi:

sedikit berbohong demi keuntungan, sedikit menipu demi mempertahankan bisnis, menerima yang syubhat bahkan haram karena takut kehilangan pendapatan, meninggalkan kewajiban karena mengejar pekerjaan, atau mengorbankan prinsip karena takut kehilangan jabatan.

Di titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar ekonomi. Ia telah masuk ke wilayah tauhid.

Pertanyaannya berubah dari:

“Berapa penghasilanku?”

menjadi:

“Siapakah sebenarnya yang kuyakini sebagai pemberi rezeki?”

Allah menjawab kegelisahan itu:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” QS. Ath-Thalāq: 2–3

Tawakkal, karena itu, bukan meninggalkan ikhtiar. Tawakkal adalah membebaskan hati dari perbudakan kepada sebab, sementara anggota badan tetap bekerja dengan sungguh-sungguh.

Tetapi keselamatan akhirat tidak boleh dianggap pasti

Ada sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan daripada berkurangnya harta: berkurangnya iman tanpa kita sadari.

Kita dapat menghitung rekening, aset, keuntungan dan kerugian dengan sangat teliti. Tetapi siapakah yang setiap malam menghitung keadaan hatinya?

Apakah hari ini lebih dekat kepada Allah daripada kemarin?

Apakah shalat semakin hidup atau sekadar menjadi kebiasaan?

Apakah harta yang masuk benar-benar halal?

Apakah hati masih mudah menangis ketika mengingat dosa?

Apakah umur yang bertambah juga menambah kesiapan bertemu Allah?

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” QS. Āli ‘Imrān: 102

Mengapa orang beriman masih diperintahkan menjaga keislamannya sampai mati?

Karena perjalanan ruhani tidak dinilai hanya dari permulaannya.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutup akhirnya.”
HR. al-Bukhari

Seseorang mungkin memulai hidupnya dengan baik, tetapi yang sangat menentukan adalah bagaimana ia menghadap Allah.

Karena itu orang-orang saleh tidak pernah merasa aman hanya karena telah lama beribadah. Semakin mereka mengenal Allah, semakin dalam rasa khauf dan raja’ mereka: takut amal tidak diterima, sekaligus berharap kepada rahmat-Nya.

Amal bukan harga untuk membeli surga

Keselamatan akhirat juga tidak boleh dipahami sebagai transaksi matematis.

Manusia tidak dapat berkata:

“Saya sudah beribadah sekian tahun, maka surga menjadi hak saya.”

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa seseorang tidak masuk surga semata-mata karena amalnya, melainkan dengan rahmat Allah.

Ini bukan merendahkan amal.

Justru seseorang harus beramal sekuat tenaga. Tetapi setelah beramal, ia tidak berdiri di hadapan Allah dengan kesombongan seorang pedagang yang membawa tagihan. Ia berdiri sebagai seorang hamba yang berkata:

“Ya Allah, inilah sedikit amal yang mampu kulakukan. Jika Engkau menerimanya, itu karena rahmat-Mu.”

Maka perjalanan menuju Allah ditopang oleh tiga kekuatan:

amal yang sungguh-sungguh, rasa takut kepada Allah, dan harapan terhadap rahmat-Nya.

Paradoks manusia modern

Manusia modern sangat terlatih merencanakan masa depan dunia.

Ada financial planning, dana darurat, investasi, asuransi, pendidikan anak, rumah pensiun dan berbagai strategi menghadapi masa tua.

Semua itu baik.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih fundamental:

Di manakah akhirat planning kita?

Kita menyiapkan kehidupan untuk usia tujuh puluh atau delapan puluh tahun, tetapi sering lupa mempersiapkan kehidupan yang tidak berakhir.

Allah menggambarkan akhirat dengan ungkapan:

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Di sinilah perspektif Qur’ani mengubah skala kehidupan.

Dunia bukan tidak penting. Tetapi dunia terlalu kecil untuk menjadi tujuan akhir.

Harta bukan tidak berguna. Tetapi pada saat tertentu seluruh harta akan kehilangan nilainya:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” QS. Asy-Syu‘arā’: 88–89

Memindahkan pusat kecemasan

Tadabbur ini akhirnya membawa kita kepada satu perubahan penting: mengubah pusat kecemasan hidup.

Bukan berarti berhenti memikirkan ekonomi. Bukan meninggalkan usaha. Bukan pula hidup tanpa perencanaan.

Tetapi jangan sampai kecemasan terhadap dunia lebih besar daripada kecemasan terhadap iman.

Bekerjalah sebaik-baiknya, tetapi jangan mempertuhankan pekerjaan.

Carilah harta, tetapi jangan biarkan harta menguasai hati.

Ketika rezeki menyempit, jangan sampai iman ikut menyempit.

Ketika bisnis mengalami kerugian, jangan sampai akhirat ikut dirugikan.

Ketika kehilangan sesuatu dari dunia, jangan sampai kehilangan Allah dari hati.

Sebab kehilangan dunia masih mungkin diganti.

Tetapi kehilangan iman ketika berjumpa dengan Allah adalah kerugian yang sesungguhnya.

Maka kaidah ruhani yang layak kita bawa pulang adalah:

لَا تَخَفْ عَلَى رِزْقِكَ، وَلَكِنْ خَفْ عَلَى إِيمَانِكَ وَخَاتِمَتِكَ

“Jangan terlalu mencemaskan rezekimu; tetapi cemaskanlah imanmu dan akhir kehidupanmu.”

Rezeki—ikhtiarkan lalu tawakkalkan.
Dunia—gunakan, jangan diperbudak olehnya.
Amal—kerjakan, tetapi jangan ujub.
Akhirat—persiapkan setiap hari.
Husnul khatimah—mintalah kepada Allah sampai hembusan napas terakhir.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu husnul khatimah dan kami berlindung kepada-Mu dari su’ul khatimah.”

Jangan sampai kita menghabiskan seluruh umur menjaga sesuatu yang akan kita tinggalkan, tetapi lalai menjaga iman yang akan kita bawa menghadap Allah.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img