BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Mengenal Allah, Menemukan Diri dan Arah Kehidupan

Tadabbur: Mengenal Allah, Menemukan Diri dan Arah Kehidupan

spot_img

KABARLAH.COM – Ada satu pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh inti seluruh kehidupan manusia:

“Mengapa manusia harus mengenal Allah?”

Pertanyaan ini bukan hanya pertanyaan teologis. Ia juga pertanyaan filosofis, eksistensial, bahkan sangat personal. Sebab ketika manusia tidak mengenal siapa Tuhannya, ia pada akhirnya juga kesulitan menjawab siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.

Dalam Islam, mengenal Allah bukan berarti berusaha membayangkan hakikat zat-Nya. Akal manusia terbatas, sedangkan Allah tidak serupa dengan apa pun.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” QS. Asy-Syūrā: 11

Karena itu makrifatullah bukanlah usaha untuk menggambarkan Allah dalam imajinasi manusia. Makrifatullah adalah mengenal Allah sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya melalui wahyu, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, ayat-ayat-Nya, dan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta.

Di sinilah perjalanan ruhani dimulai.

Mengenal Allah Sebelum Menyembah-Nya

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzāriyāt: 56

Tetapi bagaimana mungkin seorang hamba menyembah dengan sungguh-sungguh Tuhan yang tidak ia kenal?

Karena itulah kualitas ibadah sangat dipengaruhi oleh kualitas pengenalan kepada Allah.

Ketika seseorang mengenal Allah sebagai Ar-Raḥmān, salatnya tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai perjumpaan dengan Zat Yang Maha Pengasih.

Ketika ia mengenal Allah sebagai Al-Ghafūr, taubat tidak lagi dipenuhi keputusasaan, tetapi harapan.

Ketika ia mengenal Allah sebagai As-Samī‘, doa tidak lagi terasa seperti berbicara kepada ruang kosong.

Ketika ia mengenal Allah sebagai Ar-Razzāq, kecemasan tentang rezeki mulai ditundukkan oleh tawakal.

Maka ilmu tentang Allah seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan dalam kepala. Ia harus turun menjadi kehidupan dalam hati.

Tauhid adalah Kemerdekaan Jiwa

Inti dakwah seluruh nabi adalah seruan:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ

“Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia.”

Tauhid bukan hanya mengatakan bahwa Tuhan itu satu.

Tauhid adalah pembebasan.

Manusia dapat diperbudak oleh banyak hal tanpa menyadarinya: harta, jabatan, popularitas, pujian, kekuasaan, hawa nafsu, bahkan penilaian manusia.

Seseorang mungkin secara lahir merdeka, tetapi batinnya menjadi tawanan.

Ketika dipuji, ia bahagia berlebihan.

Ketika dicela, ia runtuh.

Ketika memperoleh jabatan, ia merasa tinggi.

Ketika kehilangan jabatan, ia merasa kehilangan harga diri.

Tauhid datang membebaskan semuanya.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

berarti tidak ada sesuatu pun yang layak menempati singgasana tertinggi dalam hati selain Allah.

Maka mengenal Allah adalah awal dari kemerdekaan batin.

Mengenal Allah, Mengenal Diri

Ada sebuah pelajaran ruhani yang sangat dalam: semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin ia memahami keterbatasan dirinya.

Allah Mahakaya.
Manusia fakir.

Allah Maha Mengetahui.
Manusia hanya mengetahui sedikit.

Allah Maha Kuasa.
Manusia lemah.

Allah kekal.
Manusia fana.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” QS. Fāṭir: 15

Di sinilah makrifat melahirkan tawaduk.

Semakin mengenal Allah, seharusnya seseorang semakin sedikit membanggakan dirinya.

Sebab ia tahu bahwa ilmu adalah pemberian.

Harta adalah titipan.

Jabatan adalah amanah.

Kesehatan adalah karunia.

Bahkan kemampuan untuk beribadah pun merupakan pertolongan Allah.

Maka ucapan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

bukan sekadar zikir di lisan, tetapi pengakuan eksistensial bahwa manusia tidak memiliki daya mutlak atas dirinya sendiri.

Mengenal Allah Menjawab Pertanyaan Kehidupan

Manusia modern dapat mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi tetap bingung tentang dirinya sendiri.

Ia tahu bagaimana membangun teknologi, tetapi belum tentu tahu untuk apa ia hidup.

Ia tahu bagaimana memperpanjang kenyamanan, tetapi belum tentu tahu bagaimana mempersiapkan kematian.

Al-Qur’an bertanya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” QS. Al-Mu’minūn: 115

Tanpa Allah, kehidupan mudah berubah menjadi siklus:

lahir — tumbuh — bekerja — mengumpulkan — menua — mati.

Tetapi dengan iman, semuanya memperoleh arah.

Kita berasal dari ciptaan-Nya.

Kita hidup dalam kerajaan-Nya.

Kita diuji oleh-Nya.

Kita beribadah kepada-Nya.

Dan kita akan kembali kepada-Nya.

Maka kematian bukan akhir cerita. Ia adalah kepulangan.

Mengenal Allah Melahirkan Ketenangan

Kecemasan manusia sering lahir dari keinginan menguasai sesuatu yang sebenarnya berada di luar kekuasaannya.

Masa depan.
Rezeki.
Kesehatan.
Usia.
Jodoh.
Pandangan manusia.
Hasil usaha.

Ketika semuanya dipikul sendirian, hati menjadi berat.

Tetapi ketika manusia mengenal Allah sebagai Al-Wakīl, ia belajar membedakan antara wilayah usaha dan wilayah hasil.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” QS. Aṭ-Ṭalāq: 3

Tawakal bukan pasrah tanpa ikhtiar.

Tawakal adalah bekerja sebaik-baiknya, tetapi tidak mempertuhankan hasil.

Tangan bergerak.

Akal merencanakan.

Hati bersandar kepada Allah.

Dari Syariat Menuju Makrifat

Mengenal Allah dapat dipahami melalui empat lapisan pendidikan ruhani.

Syariat mengajarkan siapa yang harus disembah, bagaimana beribadah, apa yang diperintah dan apa yang dilarang.

Buahnya adalah ketaatan.

Tarekat mendidik jiwa agar ibadah tidak hanya benar secara lahir, tetapi juga hidup secara batin.

Buahnya adalah ikhlas, sabar, syukur, tawakal dan muraqabah.

Hakikat membuat seorang hamba melihat sebab tanpa mempertuhankan sebab.

Ia bekerja, tetapi tahu Allah pemberi rezeki.

Ia berobat, tetapi tahu Allah penyembuh.

Ia belajar, tetapi tahu Allah pemberi ilmu.

Makrifat membuat seseorang semakin mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya, lalu pengenalan itu melahirkan cinta, takut, harap, tawaduk dan ketaatan.

Makrifat yang benar tidak membuat seseorang merasa “lebih tinggi”.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semakin dalam ia merasa:

“Aku hanyalah hamba.”

Dua Kitab untuk Mengenal Allah

Allah memperkenalkan diri-Nya melalui dua jenis ayat.

Pertama, ayat qauliyah, yaitu Al-Qur’an.

Kedua, ayat kauniyah, yaitu alam semesta.

Allah berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri.”
QS. Fuṣṣilat: 53

Maka seorang mukmin membaca dua kitab sekaligus.

Ia membaca mushaf.

Ia juga membaca langit.

Ia membaca ayat.

Ia juga membaca kehidupan.

Gunung mengajarkan kebesaran.

Langit mengajarkan keluasan kuasa.

Tubuh mengajarkan ketelitian penciptaan.

Kematian mengajarkan kefanaan.

Dan seluruh alam seakan berkata:

Ada Pencipta di balik ciptaan.

Tanda Makrifat yang Benar

Makrifat bukan diukur dari banyaknya pengalaman gaib.

Bukan dari kemampuan berbicara tentang rahasia ketuhanan.

Bukan pula dari perasaan memiliki kedudukan istimewa.

Tandanya justru sangat sederhana:

semakin tawaduk,

semakin mudah bertobat,

semakin takut berbuat zalim,

semakin kuat tawakal,

semakin lembut kepada manusia,

semakin menjaga salat,

semakin mencintai Al-Qur’an,

dan semakin hati-hati terhadap dosa.

Jika seseorang mengaku semakin mengenal Allah tetapi semakin meremehkan syariat, maka ada sesuatu yang keliru.

Sebab makrifat yang benar selalu melahirkan ubudiyah.

Penutup

Mengapa manusia harus mengenal Allah?

Karena tanpa mengenal Allah, manusia mudah kehilangan dirinya sendiri.

Tanpa mengenal Allah, ibadah dapat menjadi ritual.

Tanpa mengenal Allah, dunia mudah menjadi tujuan.

Tanpa mengenal Allah, manusia mudah menjadi budak penilaian orang lain.

Tetapi ketika manusia mengenal Allah:

tauhidnya menjadi kokoh,
ibadahnya menjadi hidup,
doanya menjadi munajat,
tawakalnya menjadi kuat,
akhlaknya menjadi lembut,
dan hidupnya mempunyai arah.

Maka perjalanan ruhani dapat diringkas:

Kenalilah Allah.
Cintailah Allah.
Sembahlah Allah.
Taatilah Allah.
Bertawakallah kepada Allah.
Dan bersiaplah kembali kepada Allah.

Sebab pada akhirnya manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang dunia.

Ia membutuhkan jawaban tentang untuk siapa ia hidup.

Dan Al-Qur’an menjawab:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”

Itulah makrifat yang melahirkan ubudiyah: mengenal Allah bukan agar manusia merasa tinggi, tetapi agar ia semakin sadar bahwa kemuliaan tertingginya adalah menjadi hamba Allah.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img