BerandaInspirasiNasehatTadabbur : Rahmatan lil-Alamin, Ketika Tauhid Menjadi Rahmat bagi Semesta

Tadabbur : Rahmatan lil-Alamin, Ketika Tauhid Menjadi Rahmat bagi Semesta

spot_img

KABARLAH.COM – Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn.

“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” QS. Al-Anbiyā’: 107

Ayat ini pendek, tetapi kandungan maknanya membentang seluas misi kenabian itu sendiri. Di dalamnya ada tauhid, risalah, akhlak, keadilan, kemanusiaan, bahkan visi peradaban. Karena itu, raḥmatan lil-‘ālamīn tidak cukup dipahami sekadar sebagai anjuran agar Islam tampak lembut, ramah, atau toleran. Semua itu memang bagian dari rahmat, tetapi rahmat Al-Qur’an jauh lebih dalam daripada sekadar keramahan sosial.

Perhatikan susunan ayatnya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا

“Kami tidak mengutusmu kecuali…”

Dalam ilmu balaghah, konstruksi مَا … إِلَّا menunjukkan ḥaṣr, yaitu penegasan dan pembatasan. Seakan-akan Allah hendak menegaskan bahwa keseluruhan misi kerasulan Muhammad ﷺ harus dibaca dalam bingkai rahmat.

Maka rahmat itu bukan hanya terdapat dalam senyum Nabi. Rahmat itu juga ada dalam wahyu yang beliau bawa, dalam tauhid yang beliau tegakkan, dalam syariat yang beliau ajarkan, dalam akhlak yang beliau contohkan, dalam keadilan yang beliau perjuangkan, dan dalam jalan keselamatan akhirat yang beliau tunjukkan.

Dengan demikian, tidak tepat bila seseorang menerima Nabi sebagai simbol kasih sayang tetapi menolak ajarannya. Nabi ﷺ dan risalahnya tidak dapat dipisahkan.

Rahmat yang Membebaskan Manusia

Apa sesungguhnya rahmat?

Rahmat bukan sekadar rasa iba. Rahmat adalah segala sesuatu yang mengantarkan makhluk kepada kebaikan, keselamatan dan kesempurnaan yang dikehendaki Allah.

Karena itu rahmat terbesar Nabi Muhammad ﷺ bukanlah pertama-tama kesejahteraan material, melainkan pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Kalimat pertama yang beliau perjuangkan ialah:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.

Di sinilah rahmat menemukan fondasinya.

Manusia ternyata tidak hanya dapat diperbudak oleh manusia lain. Ia juga dapat diperbudak oleh harta, kekuasaan, kedudukan, popularitas, hawa nafsu, bahkan oleh egonya sendiri.

Seseorang boleh jadi secara fisik merdeka, tetapi hatinya menjadi budak dunia. Ia takut kehilangan jabatan, takut kehilangan pujian, takut kehilangan harta, sampai akhirnya lebih tunduk kepada makhluk daripada kepada Khaliknya.

Tauhid datang memutus seluruh rantai itu.

Dalam tauhid, manusia hanya mempunyai satu Tuhan. Karena hanya mempunyai satu Tuhan, ia tidak perlu menjadi budak seribu tuan.

Inilah salah satu makna terdalam raḥmatan lil-‘ālamīn: membebaskan manusia dari keterpecahan penghambaan menuju kesatuan ubudiyah kepada Allah.

Syariat adalah Bentuk Kasih Sayang Allah

Di zaman yang mengukur kasih sayang hanya dengan kelembutan, manusia mudah beranggapan bahwa aturan dan larangan bertentangan dengan rahmat.

Padahal justru karena Allah menyayangi manusia, Dia memberi batas.

Larangan zina menjaga kehormatan, keluarga dan nasab. Larangan khamr menjaga akal. Larangan riba dan memakan harta secara batil menjaga keadilan ekonomi. Larangan membunuh menjaga kehidupan. Perintah zakat menjaga solidaritas sosial. Perintah salat menjaga hubungan manusia dengan Tuhannya.

Jadi syariat bukan sekadar kumpulan hukum.

Syariat adalah pagar kasih sayang.

Seorang ayah yang melarang anaknya bermain di tengah jalan bukan sedang mengurangi kebebasannya. Ia sedang melindungi kehidupannya. Seorang dokter yang membatasi makanan pasien bukan sedang berlaku kejam. Ia sedang menyelamatkannya.

Demikian pula Allah.

Tidak semua yang dilarang Allah merupakan sesuatu yang langsung kita pahami bahayanya, tetapi seorang mukmin yakin bahwa ilmu Allah melampaui pandangan manusia.

Karena itulah ketaatan bukan hanya disiplin hukum. Ia juga merupakan kepercayaan kepada rahmat Allah.

Rahmat Bukan Berarti Membenarkan Segala Sesuatu

Di sinilah diperlukan kedewasaan berpikir.

Islam mengajarkan kasih sayang, tetapi kasih sayang tidak sama dengan pembiaran. Islam mengajarkan pemaafan, tetapi pemaafan tidak berarti menghilangkan keadilan. Islam mengajarkan kelembutan, tetapi kelembutan tidak berarti kehilangan ketegasan prinsip.

Jika orang zalim dibiarkan menzalimi orang lain atas nama kasih sayang, siapa yang merahmati korbannya?

Karena itu rahmat yang Qur’ani selalu berjalan bersama keadilan.

Rahmat bukan hanya mengusap air mata korban, tetapi juga menghentikan tangan pelaku kezaliman.

Maka formula rahmat bukan:

rahmat = selalu lunak.

Melainkan:

Rahmat adalah menempatkan kelembutan, ketegasan, pemaafan dan keadilan pada tempat yang benar di bawah petunjuk Allah.

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling lembut, tetapi beliau juga manusia paling teguh dalam prinsip. Beliau tidak membangun dakwah di atas kebencian, tetapi juga tidak pernah menukar kebenaran demi diterima manusia.

Ketika beliau diminta mendoakan keburukan terhadap kaum musyrikin, beliau bersabda:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang gemar melaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.”

Beliau menolak kebatilan, tetapi tetap mengharapkan hidayah bagi pelakunya.

Inilah akhlak kenabian: tegas kepada kesalahan, tetapi tidak kehilangan kasih sayang kepada manusia.

Rahmat bagi Seluruh Alam

Ayat itu tidak mengatakan:
رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ

“rahmat bagi orang-orang beriman” saja.

Tetapi:
رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“rahmat bagi seluruh alam.”

Risalah Muhammad ﷺ melampaui batas suku, bangsa, warna kulit, bahasa dan zaman.

Allah berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.” QS. Al-A‘rāf: 158.

Maka Islam pada hakikatnya membawa visi universal: manusia dipandang sebagai makhluk Allah yang harus diperlakukan dengan keadilan dan kemuliaan.

Karena itu ukuran keberagamaan bukan hanya panjangnya ibadah ritual, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.

Bagaimana ia memperlakukan anak yatim.

Bagaimana ia berbicara kepada orang miskin.

Bagaimana ia memperlakukan pekerja.

Bagaimana ia menghormati orang tua.

Bagaimana ia bersikap kepada tetangga.

Bagaimana ia menjaga makhluk hidup dan alam.

Allah berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” QS. Adh-Dhuḥā: 9.

Di sinilah agama berpindah dari simbol menuju peradaban.

Masjid yang megah adalah baik, tetapi rahmat Islam diuji ketika orang lemah datang kepada kita.

Ilmu yang tinggi adalah mulia, tetapi rahmat ilmu diuji ketika kita berbicara kepada orang yang tidak berilmu.

Kekuasaan adalah amanah, tetapi rahmat kekuasaan diuji ketika berhadapan dengan mereka yang tidak mempunyai kuasa.

Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat

Ayat ini juga mempunyai kedalaman pendidikan ruhani.

Pada tingkat syariat, raḥmatan lil-‘ālamīn berarti mengikuti Rasulullah ﷺ dalam ibadah, halal-haram, muamalah dan akhlak.

Pada tingkat tarekat, ia berarti mendidik jiwa agar akhlak Nabi tumbuh dalam diri: sabar, tawaduk, dermawan, pemaaf, santun, tetapi tetap istiqamah dalam kebenaran.

Pada tingkat hakikat, seorang hamba menyadari bahwa sumber seluruh rahmat bukanlah makhluk.

Allah-lah Ar-Raḥmān, Ar-Raḥīm.

Rasulullah ﷺ adalah utusan yang Allah pilih untuk menyampaikan rahmat-Nya.

الرَّحْمَةُ مِنَ اللَّهِ، وَالرَّسُولُ سَبَبٌ أَرْسَلَهُ اللَّهُ

Rahmat berasal dari Allah, sedangkan Rasul adalah sebab yang Allah utus untuk menyampaikannya.

Pada tingkat makrifat, seseorang mulai melihat agama Allah sebagai rahmat.

Al-Qur’an adalah rahmat.

Salat adalah rahmat.

Taubat adalah rahmat.

Nasihat adalah rahmat.

Perintah adalah rahmat.

Bahkan larangan pun rahmat.

Ia tidak lagi berkata, “Mengapa Allah membatasi saya?”

Ia mulai memahami:

“Allah sedang menjaga saya.”

Di sinilah agama tidak lagi terasa sebagai beban dari luar, tetapi menjadi jalan pulang bagi jiwa.

Dari Rahmat Menuju Peradaban

Maka raḥmatan lil-‘ālamīn bukan slogan yang berhenti di mimbar.

Ia harus menjadi karakter individu, budaya masyarakat dan arah peradaban.

Tauhidnya membebaskan.

Syariatnya menjaga.

Akhlaknya melembutkan.

Ilmunya mencerahkan.

Keadilannya melindungi.

Kasih sayangnya memuliakan.

Dan seluruhnya mengantarkan manusia kembali kepada Allah.

Inilah rahmat yang hakiki.

Syariatnya: mengikuti Rasul.

Tarekatnya: meneladani akhlak Rasul.

Hakikatnya: menyadari seluruh rahmat berasal dari Allah.

Makrifatnya: melihat setiap petunjuk Allah sebagai kasih sayang yang membawa hamba kembali kepada-Nya.

Maka raḥmatan lil-‘ālamīn bukan hanya ajaran agar Islam tampak lembut di hadapan dunia.

Ia adalah misi untuk menyelamatkan manusia dengan tauhid, membimbingnya dengan wahyu, memperindahnya dengan akhlak, menegakkannya dengan keadilan, dan akhirnya mengantarkannya menuju rahmat Allah yang paling agung:

keselamatan ketika kembali kepada-Nya.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img