KABARLAH.COM – Dari kefanaan dunia menuju tersingkapnya hakikat kehidupan. Ada sebuah ungkapan hikmah yang masyhur dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Alī bin Abī Ṭālib رضي الله عنه:
النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا
An-nāsu niyāmun fa idzā mātū intabahū.
“Manusia seperti orang-orang yang tidur; apabila mereka mati, mereka tersadar.”
Secara ilmiah, ungkapan ini tidak boleh disebut sebagai hadis Nabi ﷺ. Penisbatan kepada Sayyidina ‘Alī juga lebih aman disebut sebagai penisbatan yang masyhur, bukan kepastian sanad. Namun kandungan hikmahnya mempunyai resonansi yang sangat kuat dengan pesan Al-Qur’an tentang kefanaan dunia, kelalaian manusia, kematian, dan tersingkapnya kenyataan akhirat.
Ungkapan ini mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan mendasar: apakah selama ini kita benar-benar hidup, atau hanya merasa hidup karena terlalu larut dalam apa yang sementara?
Dunia bukan ilusi, tetapi ia sementara
Ketika dikatakan bahwa dunia “seperti mimpi”, Islam tidak mengajarkan bahwa kehidupan ini tidak nyata. Keluarga nyata. Pekerjaan nyata. Kegembiraan nyata. Kesedihan nyata. Dosa nyata. Amal saleh pun nyata. Syariat dibangun justru di atas kenyataan tersebut.
Yang dimaksud “seperti mimpi” adalah bahwa sesuatu yang ketika sedang kita alami terasa sangat besar, setelah berakhir ternyata tampak sangat kecil.
Orang yang sedang bermimpi dapat merasa mengalami perjalanan bertahun-tahun. Namun ketika terbangun, ia mendapati semuanya hanya berlalu dalam beberapa jam. Demikian pula manusia.
Enam puluh atau tujuh puluh tahun dapat terasa sangat panjang ketika dijalani. Tetapi di hadapan kehidupan akhirat yang tidak berakhir, seluruh umur dunia itu kelak terasa seperti sebagian kecil dari satu hari.
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
“Pada hari ketika mereka melihatnya, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal kecuali pada waktu sore atau pagi hari.” QS an-Nāzi‘āt: 46.
Di sinilah manusia menghadapi paradoks kehidupan: yang sementara sering terasa permanen, sedangkan yang kekal justru terasa jauh.
Kita memperlakukan dunia seolah-olah tidak akan berakhir, padahal setiap detik sedang mengantarkan kita kepada akhirnya.
Kematian bukan menghilangkan kenyataan, tetapi menyingkapkannya
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai tersingkapnya kesadaran manusia:
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Sungguh, dahulu engkau berada dalam kelalaian mengenai hal ini. Kemudian Kami singkapkan penutup darimu, maka penglihatanmu pada hari ini menjadi tajam.” QS Qāf: 22.
Kata yang sangat penting adalah:
فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ
“Kami singkapkan penutupmu.”
Selama hidup, manusia mengetahui akhirat melalui wahyu. Kita percaya kepada malaikat, barzakh, kebangkitan, hisab, surga dan neraka berdasarkan berita Allah dan Rasul-Nya.
Namun datang suatu saat ketika apa yang sebelumnya diyakini sebagai ghaib mulai menjadi sesuatu yang dialami.
Kematian, dengan demikian, bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah perubahan cara mengetahui.
Di dunia kita mengetahui melalui iman.
Di akhirat manusia mulai mengetahui melalui penyaksian.
Masalahnya, ketika penyaksian itu datang, kesempatan untuk memperbaiki amal telah berakhir.
Tragedi terbesar manusia: sadar setelah kesempatan habis
Di dunia manusia masih dapat berkata, “Besok saya bertobat.”
Masih dapat berkata, “Nanti setelah urusan pekerjaan selesai saya akan lebih dekat kepada Allah.”
Masih dapat berpikir, “Kalau sudah tua nanti saya akan memperbanyak ibadah.”
Tetapi kematian menghapus kata “nanti.”
Allah menggambarkan penyesalan manusia:
رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat mengerjakan amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” QS al-Mu’minūn: 99–100.
Jawabannya tegas:
كَلَّا
“Sekali-kali tidak.”
Di sinilah letak kedalaman ungkapan an-nāsu niyām. Persoalannya bukan sekadar bahwa manusia akan mati. Semua orang mengetahui itu.
Persoalannya adalah: jangan sampai manusia baru benar-benar memahami kehidupan setelah kehidupannya selesai.
Ada yang bangun setelah mati, ada yang bangun sebelum mati
Inilah yang dalam tradisi suluk disebut اليقظة — al-yaqaẓah, keterjagaan hati.
Ada manusia yang baru mengetahui harga salat ketika tidak bisa lagi bersujud.
Ada yang baru mengetahui nilai waktu setelah waktunya habis.
Ada yang baru mengetahui arti keluarga setelah perpisahan datang.
Ada yang baru mengetahui kecilnya jabatan ketika namanya tidak lagi disebut.
Tetapi ada pula manusia yang diberi Allah keterjagaan sebelum kematian datang.
Ia masih bekerja, tetapi pekerjaan tidak memperbudaknya.
Ia masih mempunyai harta, tetapi harta tidak tinggal di dalam hatinya.
Ia masih mempunyai kedudukan, tetapi kedudukan tidak membuatnya lupa bahwa dirinya hanyalah hamba.
Ia masih menikmati dunia, tetapi dunia tidak menjadi tujuan terakhirnya.
Inilah manusia yang terjaga sebelum mati.
Tubuhnya berada di dunia, tetapi kesadarannya telah menghadap akhirat.
Tangannya bekerja, tetapi hatinya mengetahui ke mana seluruh perjalanan ini menuju.
Masalah sebenarnya bukan dunia, tetapi ghaflah
Al-Qur’an tidak mengajarkan kebencian kepada kehidupan dunia.
وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” QS al-Qaṣaṣ: 77.
Maka mempunyai rumah bukan masalah.
Mempunyai usaha bukan masalah.
Menjadi pemimpin bukan masalah.
Menjadi kaya bukan masalah.
Mencintai keluarga bukan masalah.
Masalah muncul ketika semuanya melahirkan:
الْغَفْلَة
al-ghaflah — kelalaian dari Allah.
Karena itu zuhud bukan berarti tidak memiliki dunia. Zuhud adalah dunia tidak memiliki kita.
Orang miskin pun dapat diperbudak dunia apabila seluruh pikirannya adalah dunia. Sebaliknya, orang kaya dapat menjadi zahid apabila hartanya berada di tangan, sementara hatinya tetap bergantung kepada Allah.
Ungkapan yang sering digunakan para ahli suluk sangat indah:
الدُّنْيَا فِي الْيَدِ لَا فِي الْقَلْبِ
“Dunia berada di tangan, bukan di dalam hati.”
Dari syariat menuju makrifat
Dalam perspektif tasawuf Sunni, kefanaan dunia dapat dibaca dalam beberapa lapisan perjalanan ruhani.
Pada tingkat syariat, kesadaran terhadap kematian membuat manusia semakin disiplin menjaga halal dan haram, amanah, salat, hak keluarga, dan hak sesama.
Pada tingkat tarekat, manusia mulai membersihkan dirinya dari kesombongan, riya, tamak, iri, dendam, dan keterikatan berlebihan kepada pujian manusia.
Pada tingkat hakikat, ia memahami bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan.
Allah mengingatkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” QS al-Baqarah: 156.
Tubuh kita milik Allah.
Waktu kita milik Allah.
Ilmu kita milik Allah.
Harta kita milik Allah.
Bahkan kemampuan untuk beribadah kepada Allah pun merupakan karunia Allah.
Sedangkan pada tingkat makrifat, hati tidak lagi berhenti pada nikmat, tetapi mengenal Sang Pemberi nikmat. Tidak berhenti pada sebab, tetapi mengenal Musabbib al-Asbāb. Tidak berhenti pada ciptaan, tetapi membaca ciptaan sebagai ayat yang menunjuk kepada Sang Pencipta.
Makrifat yang benar bukan menjauhkan seseorang dari syariat. Justru semakin seseorang mengenal Allah, semakin dalam rasa kehambaannya.
Kematian mengecilkan semua gelar dunia
Ada saatnya seluruh kategori yang hari ini dianggap besar tiba-tiba kehilangan artinya.
Gelar.
Jabatan.
Popularitas.
Jumlah pengikut.
Rumah besar.
Kendaraan.
Kemenangan sosial.
Kebanggaan intelektual.
Pada saat itu pertanyaan manusia berubah.
Bukan lagi:
“Berapa banyak yang aku miliki?”
Tetapi:
“Apa yang aku bawa?”
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Sungguh, kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kalian pertama kali.” QS al-An‘ām: 94.
Manusia datang sendirian.
Tanpa titel.
Tanpa ajudan.
Tanpa sekretaris.
Tanpa kartu nama.
Yang tersisa adalah iman, amal, dan rahmat Allah.
Dunia adalah perjalanan, bukan tempat tinggal
Nabi ﷺ bersabda:ź
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
HR al-Bukhārī.
Musafir tidak membenci tempat persinggahannya. Ia memanfaatkannya.
Ia makan.
Ia beristirahat.
Ia membawa bekal.
Tetapi ia tidak lupa bahwa tempat itu bukan tujuan akhirnya.
Demikianlah seorang mukmin melihat dunia.
Ia membangun, tetapi tidak diperbudak bangunan.
Ia bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan.
Ia mencintai keluarga, tetapi mengetahui bahwa semua cinta akhirnya harus dikembalikan kepada Allah.
Sebab Al-Qur’an menegaskan:
وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” QS al-‘Ankabūt: 64.
Maka kebijaksanaan terbesar bukanlah menunggu kematian untuk memahami dunia.
Kebijaksanaan terbesar adalah memahami dunia sebelum meninggalkannya.
Jangan menunggu kubur untuk mengetahui bahwa harta bukan tujuan.
Jangan menunggu sakaratul maut untuk mengetahui harga satu sujud.
Jangan menunggu kesempatan ditutup untuk mengetahui nilai satu istighfar.
Jangan menunggu perpisahan untuk menyadari betapa berharganya orang-orang yang kita cintai.
Dan jangan menunggu akhirat untuk memahami bahwa seluruh perjalanan ini pada akhirnya menuju satu titik:
إِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Kepada Allah-lah tempat kembali.”
Itulah yaqaẓah sebelum maut: ketika tubuh masih berada di dunia, tangan masih bekerja, amanah masih ditunaikan, dan kehidupan tetap dijalani sepenuh hati—namun jiwa sudah terjaga dari ilusi kefanaan.
Orang yang benar-benar terjaga bukanlah orang yang meninggalkan dunia, tetapi orang yang menjalani dunia tanpa kehilangan Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



